Sabtu, 12 Oktober 2013

Berawal dari mimpi~

06 September 2012
Beberapa waktu yang lalu, ini hanya sebuah keinginan. Melakukan perjalanan panjang menelusuri jengkal-jengkal sebagian kecil dari tanah air ini. Modal yang tak banyak, waktu yang sedikit tergesa namun dengan harapan yang besar. Tepatnya adalah harapan yang mengembang seiring peluh yang dirasakan para mahasiswa-mahasiswi setelah bersahabat dengan dunia pendidikan pada semester akhir. Kami, "anak Sumatera yang beranjak menjelajahi dunia".

Stasiun Kertapati, Palembang.

Pagi ini, tanggal enam September duaribu dua belas dengan carrier berisi perlengkapan yang diperkirakan cukup untuk dua minggu kedepan. Kami duduk di kursi kereta ekonomi saling berhadapan. Hanya kami berempat yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan perjalanan ini, setelah beberapa orang "gugur" dalam mimpi mereka untuk menggapai mimpi-mimpi lain. Masih tak menyangka hari ini terjadi. Kami berempat saling berpandangan.
"Hanya kami berempat.." kataku dalam hati.
"Masih gak nyangka bisa pergi juga, walaupun yang jadi cuma segini" ungkap Nova.
"Yah.. dan yang lain cuma bisa ikut nganter, padahal persiapan udah rampung serampung rampungnya. kak Jai, Enda, Ria, dan lain-lain. Hhh.. Sayang bener.." tambah Dika.
Aku dan Dika menginap di rumah Enda tadi malam, karena selain bisa berangkat bersamaan dengan Dika, rumah Enda pun tak jauh dari stasiun. Hanya butuh 5 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan Nova diantar Jai yang bertempat tinggal berdekatan.
"Hahaha, yasudahlah yang penting kita sekarang jadi pergi. Pokoknya tetep pergi, yang penting jangan sendiri. Hehehe" Harry nimbrung dengan gayanya yang sok cuek.
Kami menghela nafas cukup dalam. Berdoa, semoga perjalanan ini lancar dan menyenangkan.

Bayangan tentang Pulau Sempu, Bromo dan Malang sudah lama membius pikiran kami. Tapi kali ini, bayangan itu menusuk-nusuk hingga menjalar keseluruh tubuh. Tetap optimis walaupun rasa khawatir masih saja ada. Sedikit berlebihan jika mengingat Bromo sudah menjadi tempat wisata yang siapapun bisa mengunjunginya, namun kami rasa kami berbeda, perjalanan kami lebih panjang, lebih lama dan lebih berkesan karena perjalanan kami tidak akan "biasa" tidak akan pernah menjadi "biasa".

Pukul 02.10 dini hari , 07 September 2012

Masih ada rasa kantuk yang mengendap walaupun sudah seharian ini melakukan aktivitas monoton (Tidur-ngemil-ngobrol-tidur-ngemil-ngobrol) untuk menghabiskan waktu di perjalanan yang baru saja dimulai. Dini hari ini, kami terpaksa terjaga karena kami harus melanjutkan perjalanan dari Bakau ke Merak menggunakan kapal ferry. Kembali berjalan, kembali memikul carrier yang "cukup" berat dan kembali mengumpulkan bagian-bagian puzzle yang akan kami rangkai di akhir nanti. Di jalur penumpang kapal kami bertemu dengan sekelompok orang dengan seragam hitam juga sedang berjalan menuju kapal. Terdapat tulisan INKANAS di seragam tersebut, dan terdapat pula tulisan KARATE di bagian samping tas punggung mereka. Sedikit penasaran, kami mengikuti mereka dari belakang dan berharap mendapatkan sebuah teguran persahabatan setelahnya. 
Sesampainya di dalam kapal, kami duduk di luar ruangan. Merasakan angin malam yang dingin, lampu-lampu di daratan yang gemerlip dari kejauhan serta dilengkapi riak air di permukaan laut. Teguran yang dinantikan pun datang.
"Abis naik gunung mas?" tanya salah satu anggota kelompok berbaju hitam yang kami duga pemimpin mereka.
"Oh enggak mas, baru mau." jawab Harry kemudian.
"Oo, kirain abis dari Dempo, memangnya mau kemana?" tanyanya lagi.
"Mau ke Bromo mas"
"Naik apa?"
"Naik kereta dari Jakarta ke Malang mas rencananya"
"Udah ada tiket? susah loh kalau belum, sistem pembelian tiket sekarang udah beda soalnya"
"Belum mas.."
Percakapan itu terus mengalir, banyak hal yang kami dapat salah satunya tentang tiket yang rencananya akan kami beli di loket setibanya di Jakarta siang nanti ternyata sudah habis terjual dan tiket beberapa hari kedepan sudah sulit untuk didapatkan. Mereka yang memesan tiket dari dua hari yang lalu saja baru mendapatkan tiket untuk besok. Kami pun dengan senang hati memutuskan untuk ikut bersama mereka setelah ditawarkan untuk bergabung karena tujuan kami sama, yaitu Kota Malang dan kami sama-sama dari Pulau Sumatera.
Banyak cerita, satu jam pun berlalu. Tepat di tengah perjalanan Bakau-Merak, tanda peringatan kapal berbunyi dan dilanjutkan pemberitahuan dari nahkoda kapal bahwa kapal yang saat itu kami naiki mengalami kebocoran pipa. Kami diminta untuk tidak panik, tetap tenang dan terus berdoa. Aku  merasa setengah sadar waktu itu, kantukku tak tertahan lagi. Angin malam itu pun mengelus manja, mengantarku tidur di sandaran carrier ku sendiri. Hangat. Setelah sebelumnya kulihat lampu-lampu di daratan semakin terang, kemudian bertambah terang setelah lampu kapal kami redup lalu mati. Indah, indah sekali. Tak lupa beberapa bintang yang berkedip seolah memintaku cepat tidur. Tenang, menenangkan, dan akupun tertidur tanpa ingat situasi genting yang sebenarnya sedang terjadi.
"Masih mati lampu, berarti bantuan belum datang" entah siapa yang berbicara, yang jelas suara itulah yang membangunkanku. Pukul setengah empat subuh. Angin laut masih dingin dan lampu kapal masih mati dan aku masih mengantuk. Kulirik teman-temanku yang lain, mereka juga tertidur. Untunglah semua tidak panik dan aku tertidur. Lagi.
Jam menunjukan pukul lima, kami terbangun serempak, bersyukur lampu kapal sudah hidup dan diketahui, kapal telah kembali normal. Nahkoda kembali menginformasikan kepada seluruh penumpang bahwa bantuan dari Merak telah cukup sigap dalam menangani gangguan kapal. Semuanya mengucap kata syukur. Kami semua masih baik-baik saja. Terimakasih Tuhan, Engkaupun memberikan kami ketenangan hati.

Pukul 08.30 , Stasiun Senen.
"Hari ini tak ada tiket kami dapat, besok? lusa? katanya sudah habis semua?" kata-kata itu berputar di otak kami masing-masing.
Setelah tiba di Stasiun, kami langsung menuju loket dan mendapatkan informasi bahwa tiket kereta api tujuan Malang dan Surabaya telah habis hingga tanggal 9 September. Ini berarti, jika kami benar-benar tidak mendapatkan tiket, kami akan menginap di stasiun selama 2 malam. Jakarta, dengan kesan "tak aman" yang dimilikinya.

Malam ini, kami dan Team Karate Inkanas menginap di tempat ini. Ternyata bukan hanya kami yang bermalam disana. Namun, kami lah yang membuat suasana stasiun malam itu ramai sekali. Para penumpang kereta api yang lain, baik yang akan segera berangkat atau yang mungkin juga bernasib sama dengan kami, tak lepas melemparkan pandangan mereka pada kami. Kami dengan perlengkapan camping lengkap. Seakan kami memang berencana menginap di Senen malam ini. Team Inkanas yang seru dan tak pernah habis bahan obrolan membuat kami tak pernah merasa bosan.
Malam semakin larut, stasiun semakin tak ramai, tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiri kami yang masih ramai dengan celotehan dan suara yang mengaduh mungkin sampai pada ujung koridor stasiun. Ibu itu terlihat bingung dan khawatir, ia membawa satu plastik hitam besar dan mengapit sebuah tas tangan dan kemudian bertanya. "bolehkah saya gabung?" , dengan semangat kami menjawab secara bersamaan "ayo bu mari, duduk bareng-bareng aja disini"
"Ibu darimana?" tanya Sensei, pelatih Karate Inkanas langsung.
"Dari Sumatera dek" ia menjawab dengan lemah. Mata kami membulat mendengar jawabannya dan refleks berteriak "waaah.. Sumateraa, sumatera mana bu?"
"Sumatera Selatan dek.. "
"Wooo.. Sumatera Selatan" Kami berteriak lagi.
"Wong kita galau , wong kito galau" teriak Onggok, salah satu dari team karate Inkanas.  Ibu itu terlihat kaget dan masih terlihat bingung.
"Duduk sini bu, kami juga dari Sumatera, ini mereka dari Palembang dan kami berlima dari Lampung" terang Sensei. Sensei memang orang yang sangat bersahabat dengan siapa pun, supel dan ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Kesan pertama saat bertemu yaitu kasar dan angkuh ternyata sama sekali salah, begitu juga dengan empat orang anak murid nya. Mereka semua bersahabat.

Ibu itu bernama Susi, kami memutuskan memanggilnya dengan sebutan "ayuk" yang berarti "kakak" mengingat ia datang dari Sumatera Selatan tepatnya daerah Pagar Alam. Ia kebingungan karena setibanya di Stasiun Senen ia tidak mendapatkan tiket. Sama seperti kami, yang terpaksa menginap di tempat ini. Ia khawatir, dengan siapa dia bermalam disini, tak ada satupun orang yang ia kenal. Untuk pergi makan pun ia sulit, karna harus membawa plastik besar yang ternyata berisi kopi. Cukup berat. Bisa percaya pada siapa ia disini, di tempat yang dikenal "jahat" bagi pendatang. Ia takut. Berulang kali ia menangis, meminta bantuan kepada penjaga keamanan, dan orang sekitar. Namun penjaga keamanan pun tak bisa banyak membantu dan orang yang ia temui  kebanyakan adalah orang yang akan segera berangkat dan telah memiliki tiket. Ia juga telah menelpon keluarganya di Malang (ternyata kota tujuan kami  sama). Keluarganya ikut khawatir, namun tak dapat berbuat banyak. Sampai akhirnya ia menemukan kami. Wajahnya terlihat lelah, namun ada kelegaan di dalamnya.

Tengah malam, Stasiun Senen.
Sensei mengajak Harry dan Dika menemui seseorang. Aku dan teman yang lain tetap tinggal, mempersiapkan posisi untuk tidur. Tak lama kemudian Harry, Dika dan Sensei datang membawa kabar baik. Harry menyerahkan 5 lembar kertas bertuliskan "Jkt-Sby 14.20, 08 September 2012" . Kami tersenyum dan bersyukur kembali. Tuhan.. terimakasih..

08 September 2012, pukul 11.30.

Akan terjadi perpisahan untuk pertemuan pertama kami dengan team kamikaze great giant Inkanas siang ini. Jam keberangkatan kereta kami berbeda. Mereka berlima telah sangat banyak membantu kami.  Tuhan sengaja mengirimkan mereka untuk memberi kami kemudahan, perjalanan menyenangkan  walau perjalanan kami masih berjarak "sejengkal" dari rumah. Pertemuan yang singkat namun meninggalkan kenangan yang tak akan terlupakan, kesan baik dan diharapkan silaturahmi ini tak akan pernah putus.
Bahagia sekali mengenal mereka. Hati-hati sahabat.. semoga kita bisa bertemu lagi nanti.. Terimakasih untuk pertemuan ini.

Selepas mereka pergi, suasana mendadak sepi. Hanya ada kami berlima (Aku, Dika, Nova, Harry dan Yuk Susi), seperti merasakan ada yang hilang. Kami pun segera bergegas merapihkan barang kami, menggulung terpal kembali, merapikan carrier dan perlengkapan lainnya ditemani lalu lalang pengantar atau penumpang kereta api lain. Kami siap melanjutkan perjalanan panjang berikutnya.
Diperjalanan panjang menuju Surabaya, yang semula diwarnai kericuhan di pintu masuk karna padatnya manusia dengan tingkat keegoisan masing.masing, jadwal masuk ruang tunggu yang terlambat dan hal lainnya membuat kami sedikit "panas" namun tetap tak mengubah semangat kami menemui kota tujuan, Malang.
Kami berempat dan Yuk Susi bertambah akrab, bercerita apapun yang pernah kami alami, orang-orang yang kami sayangi, hingga kembali memutar cerita kami ketika pertama kali bertemu. Menyenangkan.

09 September 2012, pukul 05.10. Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Pagi ini terang sekali,  tak seperti Palembang yang masih gelap di pukul 05.30. Kami tiba di stasiun Pasar Turi, ada yang menunggu kami disana rupanya. Suami Yuk Susi yang memang menetap cukup lama disana menjemput kami. Kemudian ia mengantar kami kerumah kerabat terdekat Yuk Susi di Malang, Yuk Erin. Tak pernah menyangka akan bertemu orang-orang se'hangat' mereka di tempat yang jauh dari rumah, tiada sanak maupun teman yang kami punya di kota ini sebelumnya. Merasa beruntung sekali, kami disambut hangat keluarga besar Bapak Kgs Arifin. Mereka semua ramai berdatangan ke rumah saudara mereka tempat kami menginap. Aku, Dika, Harry dan Nova terpukau dengan kebiasaan mereka yang terlihat begitu menghangatkan itu, mengecup kening dan mencium pipi kanan dan kiri ketika bertemu plus pelukan hangat ketika mereka pulang. Hangat sekali, keluarga ini menakjubkan.
Kami pun dijamu dengan sangat baik, lebih tepatnya kami itu sangat merepotkan!

10 September 2012

Hari ini belum ada kegiatan "trip" menuju tempat-tempat di Malang kami lanjutkan. Kami masih mengumpulkan lebih banyak lagi energi untuk menuju tempat tujuan. Sempu, Bromo dan lain-lain. Kami berencana akan menuju Sempu esok hari, menginap untuk semalam disana kemudian kembali ke rumah ini.  Suami dari Yuk Susi yang mengantar kami kemarin mengirimkan seseorang untuk menemui kami, untuk membantu kami menuju Sempu dan menyiapkan mobil sewaan untuk kami pakai esok. Kami sangat berterima kasih untuk niat baik Pak ___ membantu kami. Namun, keesokan harinya, ketika semuanya sudah siap dan rencana untuk beberapa hari kedepanpun sudah matang. Permasalahan tak terduga datang. Driver dan "perantara" mobil sewaan kami tidak ada kabar sama sekali, panggilan pun tak kunjung dijawab. Kami mulai khawatir, waktu tiba untuk menjemput kami pun sudah lewat 3 jam. DP kendaraan pun sudah kami bayar. Kecewa sekali rasanya. Sempu... oh Sempu...
Satu jam kemudian driver dan "perantara" itu pun datang, kami sudah malas menghadapi mereka. Alasanpun mereka keluarkan lebih dari satu, mulai dari tidak ada kendaraan (What? seharusnya ini sudah mereka siapkan ketika berani mengatakan "deal"), mobil pecah ban (Ada alasan lain yang lebih logis?), kemudian macet (well, cukup!).
Kami pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan kerjasama. Namun sepertinya pihak musuh tidak ingin rugi. Salah satu dari mereka mengatakan "kami tidak membawa cukup uang untuk mengembalikan uang DP, sisanya akan saya antarkan nanti malam" namun sampai pagi keesokan harinya, batang hidung mereka tidak lagi kelihatan, dan yang paling menyesakan adalah kami tidak jadi ke Sempu.

Ada hikmah dibalik kekecewaan~

Malam ini, keluarga besar dari Bapak Kgs. Aripin berkumpul. Kami kembali bertemu keluarga-keluarga baru yang menakjubkan. Om Hendri (Kakak dari Yuk Susi) datang dan bercerita banyak hal, mulai dari tempat-tempat wisata di Malang, hingga sharing mengenai perjalanannya terdahulu menyangkut pula tujuan kami berani melakukan perjalanan panjang dari Pulau Sumatera. Kami juga diperkenalkan dengan dua orang anaknya, Mas Angga dan Soma yang sengaja Ia panggil untuk bertemu dengan kami di rumah Yuk Erin. Kami juga baru mengetahui, bahwa ternyata Suami Yuk Erin adalah penulis Internasional yang namanya sudah sangat familiar di dunia Jurnalistik, yaitu Mas Akaha Taufan Aminudin. Penulis asli Batu ini memiliki kesan yang "dingin" pada saat kami pertama kali bertemu, ada rasa segan untuk berbicara banyak padanya. Namun ternyata, sosok Mas Akaha adalah sosok yang sangat sangat humoris. Penulis yang romantis dan lucu sekali. Selalu saja ada hal menarik yang keluar dari kata-katanya. Sosok yang dapat merubah suasana menjadi meriah, dan cara tertawanya itu selalu kami ingat, terdengar sangat menikmati apa yang Ia tertawakan, sehingga membuat kami pun ikut berada dalam keriangan suasananya. Semalam saja begini, kami sudah merasa sangat dekat dengan keluarga besar ini. Nyaman sekali..

Kediaman Bpk. Akaha Taufan Aminudin , Malang.


Stadion Gajayana, Malang

Masjid Musiman Kota Malang


Kalau kami tadi jadi ke Sempu, kami tak akan bertemu moment berharga ini~

11 September 2012

Hari ini kami bersiap menuju Bromo. Setelah menerima banyak masukan dari Om Hendri, Mas Akaha dan keluarga yang lain, kami memutuskan untuk semalam saja menetap di Bromo, berubah dari rencana sebelumnya yang diperkirakan dua hingga tiga hari. Kami mulai mempersiapkan kembali carrier yang akan kami bawa. Wak Ibu (Ibu dari Yuk Susi) terlihat khawatir melepas kami pergi. Beliau memang tulus sekali. Tuturnya yang lembut, nada bicara yang selalu sopan, khas Jawa nya kental sekali. Ramah. Kata-kata Wak Ibu yang selalu kami ingat adalah ketika beliau bercerita dan beliau memanggil kami dengan sebutan "Nduk". Terlebih aku, yang merasa sangat senang sekali mendapatkan julukan "ragil" dari beliau.
Pukul sepuluh pagi, kami berangkat menuju Bromo melalui jalur Probolinggo~
Sekitar pukul dua siang kami tiba di terminal mobil jalur Bromo. Kami menjadi penumpang pertama yang datang menempati tempat duduk. Belum ada penumpang lain yang terlihat. Kami menunggu di sebuah warung makan sambil menumpang mengisi baterai. Sudah cukup lama kami menunggu, satu jam sudah lewat. Kami kembali melihat kearah mobil, terlihat ada dua orang warga negara asing yang sedang menaiki barang bawaan mereka diatas mobil. Seorang pemuda dan seorang pemudi berumur sekitar dua puluh lima yang sepertinya sedang dimabuk cinta. Kami berempat melihat mereka kemudian saling berpandangan.
Waktu menunjukan pukul empat sore, kami sudah terlalu kesal menunggu. Begitu juga dengan dua orang bule di bangku paling belakang sepertinya. Ditengah hening, seorang bule (lagi) memasuki mobil dan duduk di tengah barisan bangku antara kami berempat dan dua orang pasangan bule sebelumnya. Dia tersenyum ramah.

Dia bernama Ula~
Kami berempat dan Ula ( bule berumur dua puluh lima) berkenalan saat kami hampir sampai daerah penginapan di Cemoro Lawang. Dia merupakan warga negara Ukraina berparas cantik, ramah dan sepertinya sangat berjiwa petualang. Dia bercerita bahwa tujuannya ke Indonesia adalah mengunjungi Candi Borobudur. Sejak umurnya sepuluh tahun, neneknya memberikan sebuah majalah ber-cover photo Candi Borobudur-Indonesia. Dia sangat penasaran, ternyata di dunia ini ada tempat seperti ini. Batu-batuan yang tersusun rapi, kekentalan budaya di dalamnya, serta berbau sejarah. Sejak saat itulah dia bertekad untuk menuju tempat itu. Keberaniannya untuk melakukan perjalanan panjang ini sendiri, mendaki gunung, melewati gurun-gurun pasir dan tempat-tempat yang sulit dicapai sudah ia latih sejak ia berumur tujuh belas. Sehingga akhirnya   dia memutuskan menelusuri negara Ini, menjelajahi pulau ke pulau, di mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta, melewati Provinsi Jawa Barat menuju Bali, menetap untuk beberapa hari, kemudian menuju Lombok, kemudian kesini, Gunung Bromo. Dia menceritakan juga pengalamannya di Pulau Bali, disana dia memiliki ibu angkat yang menemukannya ketika dia berjalan di suatu perkampungan sarat penduduk yang jauh dari daerah wisata. Ibu itu meminjamkannya sebuah sepeda motor yang dapat dia pakai kemanapun mengitari Bali. Di kota turis ini pula, dia sempat mengalami kecelakaan, dia terpaksa mengerem mendadak sepeda motornya untuk menghindari seekor anjing yang menyebrang tiba-tiba di depannya. Dia tidak ingin menabrak dan melukai anjing tersebut. Namun itu berarti dia terpaksa melukai dirinya sendiri. Kakinya berdarah, banyak sekali luka yang memenuhi badannya. Kami berempat masih bisa melihat lukanya. Cukup besar di bagian kaki, terbuka begitu saja tanpa perban. Separuhnya masih berdarah-darah ngeri sekali. Tapi dia terlihat baik-baik saja.
Bule satu ini  ternyata tidak terlalu menyukai Bali, karena dia pikir Bali tidak terasa Indonesia. Sudah banyak orang luar -bule sepertinya- memenuhi Bali dan itu bukanlah yang ia cari. Dia masih tidak bisa menunggu untuk tempat-tempat tujuannya berikutnya. Semeru dan Yogya. Kami ternganga mendengar bule satu ini bercerita. Kagum. Perempuan, cantik, sendirian melakukan perjalanan sejauh itu, hanya bermodalkan tas (bukan carrier) dan terdapat satu buku full tentang Indonesia. Fabulous!


Penginapan di Cemoro Lawang, Bromo.


Hari semakin gelap dan suhu dingin di Bromo mulai menusuk-nusuk, tiga lapis pakaian hangat pun rasanya kurang.

13 September 2012

Pukul 04.30

Matahari masih malu-malu terbit, namun kami telah bersiap menyambutnya di penanjakan Bromo. Indah sekali. Tak banyak yang bisa kami ucapkan, hanya kekaguman melihat salah satu lukisan Tuhan yang maha agung.
Inilah keindahannya~
















Sampai nanti, sampai bertemu lagi Bromo..


14 September 2013

Pagi yang indah, masih di Cemoro lawang.
Kami bersiap untuk kembali ke Malang, kembali ke rumah Bpk. Akaha dan kembali merepotkan mereka.
Kami berencana, sesampainya disana kami akan mengemasi barang-barang, menjelajahi Malang (lagi) dan kemudian kembali ke Palembang. Namun ternyata ketika tiba disana, keluarga ini sedang dalam moment berbahagia, Yuk Erin -Istri dari Bpk. Akaha- sedang berulang tahun tepat hari ini. Kedatangan kami disambut sangat baik, kami pun diminta ikut untuk perayaannya malam nanti. Mereka pun tak memberi izin untuk niat kami melanjutkan perjalanan hari itu. (Tuhan, sungguh Engkau yang mengatur semuanya..). Berkumpul dengan keluarga indah ini lagi...





Keesokan harinya..

Hari yang cerah untuk memulai kembali perjalanan kami, setelah banyak mendapatkan masukan, kami pun berpamitan dan memutuskan untuk menjelajahi Kota Batu dan menginap di salah satu area perkemahan disana. Ya, kami akan berkemah! Coban Talun, tujuan kami berikutnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari kota Malang, akhirnya kami sampai di tempat ini. Untuk mencapai air terjun ini, kami harus melalui jalan turunan yang berliku dimulai dari gerbang tempat kami masuk area perkemahan. Perjalanan ini cukup jauh, lama dan banyak menyita tenaga. Mengingat barang bawaan kami tidak sedikit. Namun kami  tetap berharap untuk segera menemukan air segar dan lukisan Tuhan lainnya. Dan, inilah Coban Talun itu~





Pagi hari ini kami disambut wanginya dedaunan, diiringi suara aliran air di bawah sana~





Sungguh, nikmat Tuhan takkan pernah habis..

Well, cerita indah ini belum berakhir, hidup ini masih panjang :D







Jumat, 02 Agustus 2013

Hujan yang tunjukan aku

Pagi ini, aku bangun dengan perasaan biasa-biasa saja. Kutarik nafas panjang dan menggeliat malas masih di atas kasur tersayangku. Di luar hujan, ketika kemudian aku beranjak dan membuka jendela petak di kamar berukuran 4x5 meter ini. Bau dan rintik-rintiknya menenangkan. Aku pejamkan mata sejenak, dan kembali membukanya sedikit terburu, khawatir pikiran ini melayang terlalu jauh, menghipnotis alam sadar yang terensonansi menuju cerita-cerita lama yang tak wajar dikenang terlalu dalam. kemudian aku tersenyum kecil dan menghela nafasku pelan.


Dua buah coklat mengakrabkan diri dengan kepalaku. Ada yang sengaja merapatkan keduanya. Lumayan (re:sakit). Tapi bukan masalah, karena pada akhirnya, coklat itulah yang membuatku tersenyum, dan tentu saja si pembawanya.

Aku tersenyum seraya menenggelamkan diri di bantal besar dari sofa ruang tengah. Ada dia disampingku saat ini.  Moodku yang berantakan hilang seketika ketika dia datang beberapa menit kemudian. Dan terpenjara oleh hujan deras yang datang tiba-tiba malam itu.
Terimakasih hujan...
Sampai pada pukul sebelas malam, dia tembus hujan yang sudah mulai mereda. Waktunya dia pulang. Dan aku tetap tinggal dengan euforia kebahagian yang tak hilang-hilang bahkan hingga aku bangun dari tidurku keesokan harinya.

Aku berjalan sedikit bergegas di koridor kampus, mengingat jam sudah menunjuk pukul 08.20. Ini berarti waktuku untuk tidak terlambat tersisa sepuluh menit lagi. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Tidurmu nyenyak malam ini?" tanya seorang sahabatku Lia.
"Kenapa?" Jawabku agak ketus. Dia menghela nafasnya pelan.
"Gak apa" jawabnya lagi seraya tersenyum. Dan aku balas senyumnya dengan senyum manis, ya semanis mungkin.


"Udah beres semua?"

"Udah. Mau pulang?"
"Iya, yaudah bareng aja" Dan aku hanya membalasnya dengan satu senyuman.
Bus mahasiswa sore ini  tak kalah ramai dari hari kemarin. Kursinya terisi full bahkan ada sebagian penumpang berdiri di pertengahan. Namun aku merasa hanya berdua saja. Denganmu, saat hujan turun seperti ini. Hanya satu hal yang aku ingini. Ku harap waktu berhenti saat ini juga.

"Woi! Melamun?" Suara nyaring Lia lagi-lagi menyadarkanku. Terasa seperti dihantam keping baja dengan bobot berton-ton. Aku menarik nafasku dan kemudian menghelanya sedikit lebih kencang. Lelah, itu pikirku.
"Pulang yuk" ajakku pada Lia, seraya mengambil tas tangan di kursi sebelah tempat dudukku.


Waktu menunjukan pukul 10.00 pagi. Aku sudah selesai bersiap-siap untuk pergi keluar siang ini. Dia beserta bandnya akan tampil dalam peringatan hari AIDS dunia di Balai kota. Walaupun waktu yang ditentukan untuk bertemu dengannya hari ini masih 1 jam lagi, aku sudah siap dengan senyum terbaikku. Sambil memegang handphone, aku menunggunya menjemput dengan perasaan yang luar biasa ini. Ada pesan singkat masuk sepuluh menit kemudian. 


"Syg, bisa dateng kan?" Tak lama dari itu aku langsung membalasnya.
"Iya syg, bisa. Jd jmput tp kan?"

Cukup lama aku menunggu balasan, pikiran-pikiran negatif itu mulai muncul. Sampai akhirnya, handphoneku kembali bergetar.
"Nah, itulah mslhny syg, aku gak ad kndaraan. Mtor dpke kk. Gmn ya? maaf.."

Satu kata yang terangkum dalam otakku saat itu. Kecewa. Bukan kecewa karena tidak ada kendaraan. Bukan kecewa karena harus pergi sendiri ke acara yang aku tak tau situasi dan kondisi nya seperti apa. Tapi kecewa karena tak ada kah usahanya untuk membuatku hadir di acara yang penting baginya itu? Aku kembali mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Secepat kilat aku undang pikiran-pikiran positif untuk bertamu.  Aku kembali mengambil hanphone yang sempat terabaikan.

"Gak ada bener ya? yaudah, liat entar deh bisa kesana atau enggak. Aku usahain kok"
"Marah ya? maafff, dateng yaa, please.."
Aku menghela nafasku, berusaha tenang. Besok dia akan melakukan perjalanan panjang ke luar kota, hari ini hari terakhir waktuku bersamanya dalam beberapa pekan kedepan. Baiklah, terlalu egois untuk memikirkan perasaan sendiri saat ini. Ku ambil tas tanganku, kemudian pergi.



"Tugas gue numpuk begini Sa, gue butuh hiburan" Lia menarik rambutku pelan, dia membujukku untuk ikut menemaninya cuci mata sore ini. Padahal aku tau benar, dia hanya mencari alasan untuk menghiburku. Membuatku melupakan apa yang baru saja terjadi padaku belakangan ini.



"Kalau emang gak ada apa-apa, ya nggak mesti juga telponan, sms an lalu di publish di media sosial seakrab itu. Sebegitu gak ada harganya ya aku di mata kamu"

"Yaampun.. gitu doang biasa aja sih."
"haha, iya mestinya aku biasa aja ya! yaudah lanjutin deh. Apa gak ada cewe lagi selain pacar sahabat aku!"
"Ribet amat, yaudahlah kalo gak percaya!"

"Sabar itu indah loh, banyak hal yang bisa kita jadiin pelajaran. Tapi, kalau emosimu lagi labil, mendingan di ungkapin, ungkapin dengan cara yang elegan" Lia menatap langit-langit kamarku sambil berbaring di sofa, dengan kedua tangan memeluk bantal. Aku tak memandangnya, hanya melihatnya sekilas lalu kembali berbalik badan. Guling yang ku peluk ini basah, wajahku tenggelam di dalamnya. Aku lega. Ya, AKU LEGA.


Entah orang normal mana yang bisa melihat kedekatan mereka itu biasa saja. Saling menyapa di media sosial. Mengumbar janji akan menelpon satu sama lain. Menunjukan bahwa salah satu dari mereka menunggu sms masuk dan marah ketika sms tak kunjung dibalas. Entah juga apa tujuan mereka melakukan semuanya. Membukanya di forum umum, sepertinya memang sengaja. Aku tak peduli aku tak peduli aku .. peduli .

Sampai pada puncak keterbatasanku untuk bertahan, aku menyerah. Memilih untuk pergi dari dunia nya yang mungkin tidak mengizinkanku menyentuhnya lagi sedikitpun. Aku memilih diam. Menahan sesak yang aku harap suatu saat dia mengetahuinya. Akupun berharap, dia sadar apa yang telah dia lakukan! menyianyiakan aku!


Rasanya seperti memecahkan guci besar yang menghalangi jalanku, yang kemudian bunyi nya teredam oleh suara hujan deras yang tiba-tiba datang. Lebur semua, hati ini rasanya seperti debu di luar sana. Tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri, tangis itu adalah tangis terakhirku untuk dia. Tangis terakhirku karena dia.

















Jumat, 21 September 2012

Sahabat itu Ayahku

Siapa tak kenal sahabat? sahabat itu yang akan membuatmu tertawa ketika dunia tak mendukung kau tertawa. Yang akan membuatmu mengenal arti hikmah dibalik airmata yang tak mereka seka dengan sengaja, tapi kemudian akan menghentikan alirannya.  Ya, begitu besar arti seorang sahabat khususnya di mataku.  Hidup tak akan selamanya manis, dan hidup juga tak akan selamanya pedih. Begitu berharga jika kau lewati bersama orang yang nilainya sama berharganya.

Sahabat itu Ayahku..

Ayah akan tersenyum ketika aku malas tersenyum, dan kemudian berkata "Kamu lihat ada anak bebek mondar mandir di depan rumah kita?" aku menggeleng. "Oh, berarti bebeknya udah pindah sekarang, di depan Ayah." aku mengerutkan dahi, bibirku sepertinya lebih mendukung lagi. Ayah terkekeh sambil mengacak-acak kepalaku. Dan selalu ku ingat, tawanya itu.. damai.

Sahabat itu Ayahku..

Ayah akan bersedia menjadi apapun yang aku butuhkan.
Aku tak peduli akan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, asal bersama Ayah. Yah, bersamanya adalah menyenangkan. Berjalan dengannya adalah waktu yang diberikan Tuhan untuk dinikmati, bersamanya adalah kebahagiaan. Karena ketika berjalan dengannya, aku merasa menjadi seorang puteri raja dan Ayah adalah rajanya. Ya, Rajaku. Yang selalu melindungi puterinya. Raja yang berperan layaknya pahlawan yang menyuntikan perasaan aman di tubuhku. Kau tak akan peduli, beribu mawar di depan jalan siap bersama durinya. Tubuhnya yg keras oleh hidup, akan selalu ada untukmu.

Sahabat itu Ayahku

Kamis, 09 Februari 2012

If I Were You

Gue jalan di atas trotoar malem itu, walaupun gue sadar kalaupun gue tiduran di tengah jalan juga gak bakalan ada kendaraan nabrak gue. Malem itu bener-bener sepi, sampe gue bisa denger nafas gue berkala dan bunyi sepatu gue yang udah mulai bawel mintak di-lem. Gue jalan agak cepet, selain takut setan, gue juga takut copet atau preman beserta cucu dan cicitnya. Penakut? memang, terus masalah? hah? hm gak penting, lanjut deh. Gue mempercepat langkah gue sambil ngigit syal yang gue gantung di leher pas gue keluar dari rumah tadi. Okay, nasib gue memang, keluar tengah malem gini gak akan ada yang peduli, mungkin kalo gue mati juga tinggal kubur aja nanti ya. Terus ngapain gue keluar rumah? padahal gue sendiri takut sepi, takut gelep. Alasannya adalah, gue nyariin bang toyib yang gak pulang-pulang. HAH? apaan itu tadi? maaf maksud gue, gue emang diusir dari rumah, titik.

***
Gue bangun dari tidur gue yang kayaknya udah terlalu lama sampe badan gue kerasa tebel gini. Leher gue berasa disanggah besi. Susah bergerak. Gue raih handphone yang sedari tadi nemenin gue di kasur, kayaknya gue kelewat nyenyak sampe-sampe tujuh belas misscall pun gak kedengeran. Gue buka option supaya tau siapa yang nganggep gue orang penting sampe nelpon sesering itu. Dan gue ngedapetin satu nama. EDO.
Oh mine~
Gue buru-buru mencet-mencet keypad tuh handphone buat nelpon balik.
"BEBIIII, maaf . Tidurrr tadi. Hehe" gue exited sambil ngomong pake nada manja.
"Tidur apa pingsan?" dari nadanya sepertinya dia sedikit kesal
"Pingsan, sedikit. haha. Maaf sih bebbb.."
"Hhhhhh... iyaa. Udah makan?"
"Hehe, makasiih. Belum, makan bareng yuk. Aku tunggu dirumah ya?"
"Ada siapa?"
"Ada nyokap, tapi gak apa kan, kayak biasa?"
"Hehe.. okay. Wait me for 10 minutes"
"See youu"
*klik*

Tepat sepuluh menit kemudian Edo datang dengan membawa nasi ayam bakar dengan wajah sumringah. Dia disambut nyokap dari pintu depan rumah dan sepertinya langsung disuruh nyokap buat nemuin gue. Buktinya sekarang dia disini, di kamar gue. Gue rasa pipi gue mulai merah, hangat. Refleks juga senyum-senyum ini kayak ayam kehilangan induk, gak terarah. Wah, gue salting! Gue tau ini udah biasa, tapi tetep aja, setiap natap mata Edo yang sekarang ada di depan gue ini. Mandangin wajah dia yang bersih cakep dan.. ah pokoknya bikin deg-deg-ser . Gue berasa jatuh cinta terus terusan. Edo~
Dan wajah dia sekarang gak lebih dari lima senti dari wajah gue. Beautiful world, please don't stop!

***
Gue males ngampus. Karna gue gak punya temen. Kasian ya gue. Kok bisa gue gak punya temen? yaah, pendapat orang sama prinsip hidup orang kan beda-beda ya, jadi ya gue gak ada nyalahin siapa-siapa, kalo emang mereka gak mau temenan sama gue ya, yaudah itu hak mereka. Gue juga masih punya Edo yang selalu ngertiin gue dan selalu ada buat gue. Hidup orang juga gak sempurna-sempurna amat. Yang penting gue nyaman jadi diri gue sendiri. Whatever they judge about me.
Tapi, gue juga repot kalo gue males kuliah gini. Gue sebenernya gak mau bikin nyokap sama bokap kecewa. Ngebahagian mereka adalah salahsatu tujuan gue hidup. Tapi kayaknya setan di kepala gue udah beranak cucu. Siapapun tolong gue kalo ada yang mau ngadopsi, nih lo ambil SEPUASNYA! Hahh...

***
Musik mulai membahana, suaranya terdengar hingga luar ruangan. Gue duduk di salahsatu kursi di pojokan. Nungguin Edo. Ada beberapa cewek dengan rok super mini melintas-lintas di depan gue, mereka berjalan sambil ketawa-ketawa ngerasa diri mereka paling sexy.
Gue meriksa handphone gue yang gak bunyi daritadi. Gak ada tanda-tanda Edo bakalan dateng. Mungkin dia kelewat sibuk sama kerjaannya, gue masih bisa positif thinking. Gue baru sadar, ternyata daritadi ada cowok yang mandangin gue dengan penuh tanda tanya di atas kepalanya (emang keliatan?). Sambil terus ngepul, dia nyamperin gue. Cakep sih~
Gue menikmati tiap menit perbincangan gue sama cowok ini. Gue tertarik sama cara dia ngomong. Gue, suka dia deh. Sampe akhirnya, perbincangan gue sama cowok ini bermuara di hotel sebelah. I'm sorry Edo, let me enjoy tonight~


***
Ira, sebenernya dia sahabat gue. Dulu di kampus gue selalu bareng dia. Sekarang? gue emang gak musuhan sama dia, tapi gue gak bareng dia lagi. well~
Gue sayang sama dia. Gue ngerasa dia mulai menjauh setelah kejadian itu. Dan sekarang, dia bener-bener jauh. Dan ini alesannya gue lagi gak pengen deket-deket cewek seumuran gue. Kalau tau gue gimana, pasti mereka ninggalin gue. Hopeless!

***
Gue lirik belanjaan gue tadi siang. Lumayan banyak ya. Mungkin kalo gue beli sendiri, duit spp gue sebulan bisa raib. Gue kadang ngerasa bersalah buat manfaatin cowok-cowok untuk kebutuhan gue, tapi selama mereka dan gue menikmatinya, gue rasa gak ada masalah.
Nyokap ngetuk pintu kamar nyuruh gue makan. Gue buru-buru masukin barang belanjaan ke lemari baju, random asal lempar. huh~ be nice yaa
Oh ya, malem ini Edo bakalan nginep dirumah. CAN'T WAIT!

"Eh, Edo. nginep ya? banyak tugas kalian?"
"iya tante.. hehe. Tugasnya lumayan.. mudah-mudahan cepet selesai"
Edo masuk kamar gue kemudian sambil cengengesan. Dia nutup pintu kamar dan menguncinya. Dan gue balik senyum sama dia. 

***
Oke. Sekarang gue gak punya siapa-siapa.  Gue tidur dimana malem ini pun gue gak tau. Handphone gue mati karna lupa ngecas sebelum gue diusir dari rumah. Mungkin mendingan sekarang gue nyari tempat dulu buat ngecas, setelah itu gue baru cari orang buat direpotin supaya nyediain tempat tidur buat gue.
Gue terus jalan, semakin jauh dari rumah gue tercinta. Kemudian gue nemuin mushola. Gue pikir, mushola pasti ada listrik kan buat gue ngecas ni handphone. Tapi, gue takut masuk situ.
Selama ini gue gak pernah masuk mushola, terakhir kesana itu seinget gue waktu gue kecil umur lima atau enam tahun. Sekarang, setelah dewasa rasanya gue malu sama Tuhan atas apa yang udah gue lakuin. Gue takut masuk ke dalem. Gue takut. Lucu ya? orang kotor kayak gue masih takut Tuhan. gue tau selama ini emang gue salah. Dan gue sadar itu sepenuhnya. Tapi gue belum bisa untuk ngerubah diri gue seperti yang orang tua gue pengen. Temen-temen gue pengen. Gue tau mereka marah karena mereka peduli. Tapi gak bisa segampang itu, gue ngelawan diri gue yang pengen jadi diri gue sendiri. Oke gue pengen ngebahagiain mereka, tapi gue juga punya hak buat ngebahagiain diri gue sendiri. Gue juga gak pengen kayak gini. Tapi, hati gue yang Tuhan kasih kayak gini. Kalo emang gue ditakdirin jadi cowok, kenapa Tuhan harus ngasih perasaan cewek ke gue? kenapa gue pengen sepenuhnya jadi cewek? kenapa? Keinginan itu ada bukan gue yang mau, keinginan itu emang ada dan gue gak tau kenapa. Gue kadang nyalahin diri gue sendiri. Tapi gue juga mikir, kalau gue juga pengen jadi cowok, yang normal sayang sama cewek. Gue udah nyoba. Tapi mereka gak ada yang ngehargain gue. Belum lagi cemoohan mereka yang enak banget meluncur, mereka bilang gue bodoh, gue ngelanggar aturan Tuhan. Tapi coba mereka yang ngerasain jadi gue. Ini semua gak segampang yang mereka pikirin. Dari orang yang semacam gue, untuk jadi normal itu SUSAH. Jangan pernah lo semua nganggep ini sepele. Gue berusaha. Gue UDAH berusaha! tapi kadang gak ada yang ngehargain usaha gue, ini yang bikin gue balik lagi ke jalan yang salah. Sekarang, gue gak peduli kata orang apa. Buat orang-orang yang gue sayang, mungkin kalian bakalan mandang gue sebelah mata. Tapi rasa sayang gue gak akan berubah. Semoga suatu saat nanti gue bisa jadi orang yang kalian pengen. 

Gue pergi menjauhi mushola itu, gue lari tanpa tujuan. Gue teriak di malem yang semakin gelap. Gue ngerasa alam semesta ngetawain gue.  
Gue keinget nyokap sama bokap gue yang terakhir gue lihat mimik wajahnya yang shock ngeliat gue dan Edo dibalik selimut yang sama tanpa busana.
Gue keinget semua cowok-cowok yang pernah jalan sama gue, pernah gue manfaatin, mereka dan apa yang pernah kita lakuin.
Gue keinget Ira, cewek yang bikin gue jatuh hati, dan bikin gue yakin kalo gue bisa hidup normal, tapi dia ngancurin harapan gue. Dia gak bisa jadi milik gue, gak akan pernah bisa..
Semuanya muncul kayak kembang api. Kenangan indah semuanya meledak dan bikin hati gue ancur seancur-ancurnya.
Entah apa yang bisa gue lakuin sekarang untuk jadiin keadaan lebih baik. 
Gue capek!

***

Saling menghargai akan selalu berbuah baik. Apa yang terjadi pada orang lain, tak mungkin dapat kita pahami sepenuhnya. Positif thinking lah pada semua orang, pandangan mereka tak mungkin sama. Mereka melakukan suatu hal, dengan alasan. Apa yang mereka rasakan, hanya bisa kita tahu. Bersikaplah seperti langit yang selalu terbentang untuk mendengar suara angin. Berharap, dengan penghargaan kita terhadap orang lain. Akan menghasilkan kebaikan di kemudian hari. Bagi mereka, dan bagi kita .
:)


Jumat, 28 Oktober 2011

Disuatu hari yang biasa

Cerita sederhana ini berhasil membuahkan rasa syukur yang luar biasa, bukan hanya bagi yang mengalaminya tetapi juga aku dan orang-orang diluar sana yang mendengarnya..

Disuatu hari yang biasa.
Seorang perempuan berumur 22 tahun menelusuri lorong-lorong perpustakaan utama Universitas Sriwijaya, tempat dimana dia menjalani pendidikan sarjananya. Dia melangkah dengan gerakan yang tidak cepat, matanya terus menyapu buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak yang sejajar. Namun dia tak jua menemukan buku yang dicarinya. Waktu menunjukan pukul 16.50, ini berarti perpustakaan akan segera tutup dalam waktu kurang dr 10 menit lagi. Dia lelah, pikirannya kosong dan dia sendirian saat ini, sahabatnya Riza yang tadi bersamanya izin untuk pulang terlebih dahulu setelah dia meminta Nazopa untuk pulang bersamanya sebelum itu. Bukan hanya buku-buku  yang tidak dapat dia temukan saja yang mencarut marutkan pikirannya saat ini, tetapi banyak hal lain yang harus dia pendam tanpa harus seorangpun tahu. Sungguh dia lelah, lelah..
"Dek, perpusnya udah mau tutup, kamu gak pulang?" seseorang menyadarkannya dari lamunan. Dia beranjak dari kursi yang didudukinya seraya menatap seseorang yang menyapanya tadi namun tetap tidak bersuara..

***
Pukul 19.15 WIB.
Rumah itu penuh dengan kegelisahan, keluarga kecil yang masih lengkap itu resah. Seorang ibu dengan kerutan di dahi tak dapat menutupi perasaan khawatir terhadap anaknya yang belum pulang juga saat itu. Sang ibu tahu, ini sudah terlalu malam untuk anaknya yang meminta restu untuk pergi ke kampus pagi tadi. Anaknya tak pernah seperti ini sebelumnya, dia akan memberi kabar jika akan telat pulang. Tapi kali ini, handphone nya tak aktif dan tak ada kabar sama sekali. Sang kakak yang sedari tadi tak berhenti mondar-mandir di beranda rumah, tidak berhenti menelpon nomor yang sama, berharap suara sang adik dapat dia dengar dalam waktu sesegera mungkin, namun harapannya sia-sia, yang dia dengar hanya suara operator saja.
Waktu terus berjalan, pukul 21.00 keresahan semua anggota keluarga memuncak. Nazopa belum juga pulang. Mereka telah menghubungi rekan-rekan Nazopa, tetapi satupun tak ada yang mengetahuinya. Bahkan, sang kakak telah mencarinya ke lingkungan kampus yang sudah mulai sepi dan gelap. Kali ini bukan hanya anggota keluarga yang mulai berfikiran negatif, tetapi rekan-rekan Nazopa juga.
Berita Nazopa hilang dengan cepat menyebar dalam waktu kurang dari 24 jam, via facebook, twitter dan account-account lainnya. Nazopa, dimana kamu...

***
3 hari berlalu..
Rasa khawatir orang-orang terdekat Nazopa tidak sedikitpun berkurang. Perempuan itu belum pulang juga. Kini dicampuri dengan rasa heran ketika teman-teman kuliah Nazopa mencoba melacak nomor handphonenya dan diketahui berada di daerah Bandar Lampung. Apa yang dilakukannya disana? pikir semua orang. Apakah ada orang yang menculik dan berniat jahat kepadanya? lantaran banyak sekali berita yang beredar mengenai penculikan mahasiswa yang kemudian dilakukan pencucian otak oleh suatu oknum yang mengakui dirinya NII pada saat itu. Namun mereka tidak menyerah, usaha untuk segera menemukan Nazopa terus dijalankan. Dimulai dengan melaporkan kehilangan kepada pihak kepolisian, penyebaran foto, serta pemberitaan lewat media komunikasi pun telah begitu luas. Nazopa pergi tanpa rencana, tanpa persiapan, tiada perlengkapan apapun yang dibawanya selain apa yang dipakainya saja,
Sampai akhirnya, tengah malam itu, handphone sang kakak berbunyi. Ada pesan singkat yang masuk dari nomor adik tercintanya.
"Aku baik-baik saja jangan khawatir, jangan mencariku, lakukan apapun seperti biasa saat aku ada dirumah, aku tidak ikut NII"
Perasaanya campur aduk ketika membaca pesan singkat itu, sedikit lega namun bertambah khawatir ketika ditekankannya pada kata-kata terakhir adiknya dalam pesan itu "aku tidak ikut NII". Karna perlu diketahui bahwa tidak ada seorangpun yang bertanya secara langsung padanya apakah dia ikut atau tidak mengikuti perkumpulan itu. Ya, itulah yang dikhawatirkan, khawatir Nazopa dilarikan seseorang untuk kemudian dimanfaatkan dalam hal yang sama sekali tidak baik seperti yang telah banyak beredar saat ini. Orang-orang di Dunia ini semakin tidak rasional. Kejahatan bukan lagi menjadi sesuatu yang memalukan bagi yang melakukannya.
Sang kakak dengan sigap menekan tombol-tombol di handphonenya untuk menghubungi sang adik, namun yang didapat hanya kekecewaan. Nomor yang dia tuju kembali dalam keadaan tidak aktif.

***
6 hari berlalu..
wall post dari akun facebook perempuan itu penuh, semakin banyak orang bertanya-tanya tentang hilangnya dia secara misterius.

"sahabat itu selalu ada, walau tak selalu ia menghapus air mata dan tak selalu di samping. jop aku baco dindingmu caknyo lagi banyak masalah. aku doakan semoga segera selesai masalahnyo. seberat apapun masalah itu. tetap Ada Allah yang meringankan. ingatlah Tuhan kita tak pernah membebani kita melebihi batas kesanggupan kita. jop, keluarga menanti kepulanganmu...




sahabat yang tak selalu purnama...


sahabat yg tak selalu ada di kala kau sedih

sahabat yg tak disampingmu...
(pipit)"



najop sayang,, apapun yang terjadi sama najop sekarang najop jgn berenti doa.. allah selalu ad sama najop,, yakin be dan percaya najop pasti biso ngelewatinya.. kami semua disini doain najop semoga najop bisa kembali pulang dan berkumpul sama kami disini,, amin


aku tahu tuhan selalu bersamamu naj.. dan aku tau kau baik2 saja.. kami akan sangat senang jika dirimu segera pulang kerumah.. :)


Handphone sang kakak kembali berdering, Nazopa yang akrab dipanggil Najop itu mengirimkannya pesan singkat lagi.
"Aku di cengkareng, keluarga disini baik, kalian tenang saja, aku nyaman disini dan aku belum ingin pulang" , kakaknya segera membalas pesan singkat itu. "Sedang apa kmu disana sayang? kembalilah, ibu dan semua orang disini sudah sangat khawatir, pulanglah Najop.."


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa. hehehe"

"pulanglah, kakak mohon, berita tentangmu disini sudah sangat meluas, kamu sudah masuk koran dan berbagai pemberitaan lainnya, pulanglah.."
"Kenapa seperti itu? aku tidak diculik. Keluarga disini baik. Sangat baik"
"Apapun yang terjadi padamu disana, kakak mohon pulanglah dulu, kami merindukanmu"
"Baiklah, aku pulang, tolong kirimkan uang agar aku dapat segera pulang, aku akan naik pesawat dengan penerbangan sore ini"


Nazopa, perempuan berkulit putih itu pulang sore ini, kabar tentangnya sudah sangat meluas. para Wartawan pun sudah berkumpul memenuhi setiap sudut bandara Internasional Sultan Mahmud Badarudin II. Keluarga beserta beberapa dosen terdekatnyapun telah tiba di Bandara. Semuanya menanti dengan cemas. Rasa penasaran itu mengaduh di semua hati yang  berharap Nazopa kembali.

Dia kembali, dan dia baik-baik saja...

Dia duduk diantara teman-teman dan keluarganya, berusaha terlihat kuat namun air muka nya tak menunjukan apa yang dia diharapkan. 

"Aku, aku gak diculik.." katanya terbata, sesak di dadanya tampak belum juga hilang. Dia berusaha untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

***
Nazopa berjalan menjauhi perpustakaan, terus melangkah tanpa arah dengan berbagai permasalahan yang berkecamuk di pikirannya. Dengan kelelahan yang tak biasa. Dengan hati yang resah tak menentu. Sampai pada ujung langkahnya, dia berdiri tegak di tengah-tengah kerumunan orang dengan berbagai aktivitas mereka di terminal sore itu. 
Dia hanya sedang tak ingin memikirkan apapun. Masalahnya, skripsinya, terlebih dia harus menampung permasalahan-permasalahan orang lain yang bercerita padanya. Tetapi dia tidak dapat berbagi, mulutnya terkunci, dia bukanlah seorang dengan tipe pembicara. Dia hanyalah salah satu pendiam yang memendam apapun seorang diri.

handphone-nya berdering, ada pesan singkat dari teman kampusnya. "Jop, besok kita ngadep Pembimbing jangan lupa bawa berkasmu"
Ini bukan hal yang dia inginkan, masalahnya bertambah satu lagi. Kali ini dia benar-benar ingin pergi. Sampai beberapa menit kemudian sebuah travel tujuan pagaralam-jakarta  berhenti tepat di depannya. 
Dimatikannya handphone dan dia dengan segera menaiki travel tersebut tanpa menoleh dan tanpa berfikir apa yang dilakukannya itu. Yang dia tau hanya, dia butuh ketenangan dan dia harus pergi.
Dia duduk diantara suami istri yang sudah cukup tua. Mereka sangat baik dan perhatian, dia merasa sangat nyaman dengan perjalanan ini. Dia lupa akan permasalahannya, tetapi dia juga lupa terhadap orang-orang yang senantiasa mengkhawatirkannya.

Travel yang ditumpanginya berhenti di sebuah rumah makan besar pagi ini, Nazopa teringat akan handphone nya yang kemarin sengaja dia matikan. Dipandanginya handphone itu selama beberapa menit, kemudian di tekannya tombol merah agak lama. Begitu banyak pesan yang masuk, pikirannya kembali mengeruh. Sakit yang tak tertahankan, sehingga kemudian dia kembali menonaktifkan handphonenya.

Sore itu, dia sampai dipemberhentian terakhir travel yang dinaikinya. Dia bingung akan  kemana dan apa yang akan dia lakukan di tempat yang baru pertama kali dia datangi ini.
Dia sibuk memperhatikan orang-orang disekitarnya yang sedang melakukan ativitas mereka masing-masing. Pandangannya berujung pada seorang ibu-ibu yang sedang menyemir sepatu pelanggannya di pinggir sebuah toko. Ibu itu kembali menatapnya.
"Sedang apa nak? dari mana?" tanya ibu itu.
"Saya sedang mencari pekerjaan" jawabnya. Ibu tua tersebut memperhatikannya secara seksama. Nazopa tak membawa apapun selain tas bahu di lengannya saat ini. 
"Ini pasar nak, apa yang kau cari?" tanya ibu itu lagi. Nazopa tak menjawab. Ibu itu menghentikan pekerjaannya. Dia simpan peralatannya di kotak yang biasa dia bawa kemanapun dia bekerja. Kemudian, dia membawa Nazopa pulang kerumahnya.


Di rumah petak berukuran 4 x 4 itu Nazopa beristirahat. Berdinding bilik, beralaskan semen dingin dan terdapat satu meja kayu disudut ruangan, diatasnya berdiri gelas plastik berwarna hijau dan satu buah teko yang jelas terlihat sudah lama sekali. Di atap yang tak terlalu tinggi itu terdapat satu kipas angin yang telah usang namun tetap dipergunakan. Terdapat pula satu tempat tidur terbuat dari papan, tanpa alas.
Dia diperkenalkan dengan keluarga sederhana ini, 
Seorang ibu, bapak dan 2 orang anak yang masih belia. Hatinya tersentuh melihat keluarga ini. Karena adanya dia, kepala keluarga itu terpaksa tidur di lantai berbahan semen dingin itu. Dengan adanya Nazopa, keluarga itu harus berbagi seteguk air di gelas yang sama. Bunyi kipas angin itu, debunya yang berjatuhan ketika dihidupkan, membayang-bayangi pikiran Nazopa saat itu. Dia sepenuhnya sadar, apa yang dilakukannya saat ini, pergi tanpa pamit adalah salah. Masalah bukanlah alasan, karena ini semua membuka matanya, bahwa masalah yang dihadapinya adalah tidak seberapa. Banyak orang-orang lain yang harus menanggung permasalahan-permasalahan pelik yang tak kunjung selesai, bahkan yang telah mereka alami sejak lama. Masalahnya tak seberapa dibandingkan permasalahan kehidupan orang lain yang berada disekelilingnya saat ini. Ya, tidak seberapa.


Pagi-pagi sekali Nazopa bangun, ditemani Ani, seorang anak perempuan  berumur 7 tahun yang merupakan anak dari si pemilik rumah. Dengan polosnya dia berkata "Kak Najop, gak usah pulang ya.. temenin Ani aja disini, nanti kita ngutang kipas angin sama Pak Ramli supaya kakak nggak kepanasan." Hati Nazopa remuk mendengar kata-kata itu, sakit sekali. Dia terdiam dan pipinya basah, airmatanya jatuh tak tertahan lagi. 


Keluarga sederhana ini, tetap tersenyum disaat dunia tak tersenyum pada mereka.
Keluarga sederhana ini tetap bertahan disaat kabut-kabut kehidupan tak bersahabat dengan mereka.
Dan keluarga sederhana ini tetap ingin berbagi kebahagiaan, tetap ingin mengurangi beban orang lain disaat hidup mereka masih saja sulit. 




Disanalah Nazopa tersadar. 
Memiliki berbagai masalah bukan berarti melupakan untuk berbagi. Semua persoalan di dunia ini miliki penyelesaian. Ada titik dimana pembelajaran melekat untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dikemudian hari. Memiliki permasalahan yang pelik, bukan berarti tidak dapat tetap membantu oranglain. Karena apa yang kita pandang sulit, adalah sesuatu yang tidak begitu sulit bagi orang lain yang merasakan kesulitan yang lebih sulit lagi. Ada langit di atas langit. Mensyukuri hidup adalah yang seharusnya dilakukan. Menghadapi permasalahan adalah keharusan. Tidak ada hal yang tak dapat diselesaikan.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Terimakasih Tuhan

Sesuatu yang hilang akan begitu terlihat berharga, akan begitu terlihat penting dan akan begitu terlihat dibutuhkan. Karna sesuatu itu disadari tak akan pernah kembali.. takkan pernah bisa lagi dirasakan, takkan pernah lagi bisa disentuh, hingga mengenangnya pun begitu terasa menyakitkan..
Inikah yang disebut dengan rindu?
Ternyata, rindu itu menyakitkan. Ya, begitu menyakitkan.

Ketika seseorang anak perempuan kecil kehilangan ayahnya, tersesat di ramainya suasana  Kemudian terjatuh di tengah teriknya matahari siang itu. Dia bingung, ayahnya pergi dengan pamit, namun dia sama sekali tak mengerti, "mengapa harus secepat ini" pikirnya. Suasana hatinya kacau balau. Tak lagi dia pikirkan apa yang disekelilingnya saat itu. Kenyataan yang dia ingat hanya tentang ayahnya yang pergi meninggalkannya. Rasa sakit menjalar menggerogoti dinding hati yang membuatnya kuat selama ini. Air matanya jatuh tanpa proteksi.
Bahkan dia pun tak tau apa yang mesti dia lakukan, sekuat tenaga dia mencoba berpikir, tak akan ada satupun cara untuk membuat ayah tercintanya kembali di sampingnya.
Dia berjalan dan kemudian berlari, dia tak lagi peduli jika suatu saat dia akan terjatuh lebih dalam lagi. Bahkan  pada saat itu, hal itulah yang dia inginkan. Dia ingin ikut menghilang bersama ayahnya, ayah tercintanya.

Namun suatu saat, ketika dia hendak menyebrangi sungai kecil yang dia lewati, dia bertemu dengan dua orang  anak yang berumur dua atau tiga tahun dibawah umurnya. kedua anak itu menangis, meraung memanggil ibunya. Suara mereka gemetar, sengukannya menandakan mereka telah lama menangis seperti itu. Dia menatap kedua anak tersebut, dan bertanyalah dia kemudian. "Hei, kemana ibumu?" kedua anak tersebut menjawab satu persatu "Ibuku hilang" jawab anak pertama. "Ibuku pergi" jawab anak ke dua. Dia berpaling ke arah sungai, ada dua buah ember cucian dipinggiran, terbalik. Pakaian kotor di dalamnya berhamburan keluar, dan sebagiannya menjuntai-juntai dibawa air sungai dengan arus deras sekali. Dia menyadari, Ibu kedua anak itu takkan lagi kembali. Seperti ayahnya yang hilang, seperti ayahnya yang pergi. Dia diam dalam tanyanya.  Kemudian dia pergi, pikirannya tambah kacau. Andai dia dapat menangis seluwes mereka pikirnya. Dia mempercepat langkahnya, air matanya belum juga berhenti mengalir. Matanya sembab bukan lagi. Tetapi, dia diam seketika mendapati kedua anak tersebut mengikutinya. Dia sama sekali tak ingin terlihat lemah. Kedua anak tersebut menatapnya lirih. Air mata mereka belum juga kering.
Dia berkata sedikit berteriak "Apa yang kalian lakukan? jangan mengikutiku!"
Salah satu dari mereka menjawab "Kami butuh ibu kami. Kami tak tau hendak kemana.."
"Aku tak bisa menuntun kalian, pergilah" Jawabnya. Kedua anak itu membisu. Air mata mereka kembali mengalir.
Dia mengerti, bahkan sangat mengerti apa yang mereka rasakan. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia merasa sama-sama lemah. Sama-sama rapuh. Sama-sama tak tahu arah. Dia bisa apa? Untuk menuju kemana pun dia tak tau. Dia menghela nafasnya dan berkata lagi "Ibu kalian takkan kembali, takkan pernah kembali. Kalian harus tau, tak ada satupun hal yang dapat kita pertahankan di dunia ini. Karna semuanya bukan milik kita. Kalian harus sadar, bahwa suatu saat kehilangan itu adalah salah satu hal yang harus kalian hadapi. Ingat, berjalanlah dengan kakimu, tentukan arah dengan hatimu,  dan yakinkan dirimu bahwa bisa berjalan, berlari dan menghadapi dunia ini. Ibu kalian akan tetap bersama kalian, menuntun kalian hingga ujung jalan, ingatlah ia di hatimu! Dan sekarang pergilah tanpa aku.." Begitu sulit batinnya mengatakan kalimat-kalimat tersebut. Begitu naif nya menjadi dia yang mengatakan hal yang seharusnya dia pahami sendiri. Namun usahanya berhasil, kedua anak tersebut tersenyum, kemudian berkata seraya berbalik "Terimakasih, kami percaya ibu kami masih disini" mereka berjalan semakin menjauh.

Dia berhasil membuat mereka tersenyum. Dia berhasil membuat mereka berdiri sendiri. Dia berhasil membuat mereka berani menghadapi kenyataan. Tetapi untuk dirinya sendiri, dia gagal.

Dia melanjutkan perjalanannya..
Sudah begitu sering dia terjatuh, sudah banyak pula yang dia temui. Dia lelah, sangat lelah. Kemudian dia melihat sebuah rumah pohon yang tak berpenghuni, dia menaiki pohon tersebut dan tidur pulas di dalam rumah itu. Dia merasakan bebannya berkurang dan menghilang. Dinikmatinya waktunya. Berbaring di dinginnya kayu yang menyusun rapi tempat tidurnya. Dia merasa dilindungi. Tak lama kemudian dia bangun, dia merasa hangat, ada selimut menutupi tubuhnya. Tersedia pula sup dan susu coklat hangat disamping tempat dimana dia tidur.
"Siapa yang menyiapkan semua ini untukku?" tanyanya dalam hati. Dia melihat sekelilingnya, dia mendengar ada suara kayu yg sedang dihantam benda tajam sepertinya. Suara ini mengingatkannya pada ayahnya.  Suara itu yang selalu ada di setiap paginya ketika ayahnya masih ada. Ayah yang selalu bekerja keras untuk menghidupinya. Ayah yang tak kenal lelah memberikan senyum semangatnya ketika dia bangun dari tidurnya.
Rasa penasarannya memuncak, dia bingung. Dia keluar dari rumah, dan mendapati seorang wanita yang sedang memotong-motong kayu menjadi beberapa bagian. Wanita itu tampak lelah, sesekali dia mengusap keringat di dahinya, tidak dapat tertutupi ketulusan darinya. Dia tetap tersenyum. Manis, manis sekali walaupun wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. 
Dia mendekati wanita tersebut, hingga jarak keduanya tidak lebih dari dua meter. Air matanya turun lagi.
"Ibu..." Panggilnya. 

Selama ini dia buta akan permasalahan yang dia hadapi, yang dia lihat hanya sisi negatif dan pikirannya terfokus pada hal yang terjadi pada saat itu saja. Pada saat ayahnya meninggal dunia. Dia tidak melihat sisi lain dari permasalahan itu, dia terbelenggu oleh perasaannya sendiri. Dia menyadari bahwa dia sudah terjatuh terlalu lama, dia lupa akan sosok indah lain yang selalu ada bersamanya. Ibunya, ibu tercintanya yang selalu hadir ketika dia membutuhkan. Selalu bersedia menjadi tempat berpegangan dan Ibunya yang selalu kuat menghadapi cobaan yang mereka hadapi. Dia sadar bahwa dia masih memiliki seorang ibu yang harus dia jaga sebaik-baiknya, yang harus dia sayangi dan hormati sebagaimana perannya yang amat sangat penting dalam hidupnya. Bahkan saat ini, beban ibunya semakin berat, memikul dua kewajiban sebagai orangtua. Sebagai seorang Ibu yang berperan sebagai penghangat keluarga, pengasuh terhormat bagi anaknya, sekaligus menjadi seorang ayah yang berkewajiban mencari nafkah, melindungi dan mengayomi keluarga. Sungguh bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, kecuali oleh ibu yang kuat dan hebat seperti Ibunya. Dia beruntung telah bangun dari 'koma'nya selama ini. Dia bersyukur, hatinya telah terbuka. Dia mengetahui seutuhnya, bahwa Tuhan memiliki sesuatu yang indah dibalik rasa pahit yang diberikan-Nya. 
Dia bersyukur, Ayahnya pergi dengan jalan yang baik dan meninggalkan suatu kesan yang baik dihatinya setelah selama ini diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bersamanya walau dengan waktu tak selama yang dia bayangkan.
Dia bersyukur, memiliki seorang Ibu hebat, yang kuat menjadi tempatnya bersandar. Ibu yang pantas menerima penghormatan tertinggi darinya. Ibu sang pelita hati yang melahirkannya dengan kasih sayang yang tak terhitung jumlahnya.
Dia bersyukur, menjadi bagian keluarga kecil yang indah, menjadi anak dari ayah dan ibunya. Dan dipilih Tuhan untuk mengalami proses pembelajaran yang tak semua orang mengalaminya seperti ini.
Karena dia yakin, sangat yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan memberikan hal terindah di ujung jalan nanti ketika dia telah melaluinya dengan baik.
"Terimakasih Tuhan.."

Yang pergi, memang mungkin takkan pernah kembali, namun kepergiannya adalah yang terbaik.
Karena selalu ada jalan baru yang memiliki gudang pelajaran, hikmah dan keindahan yang belum tentu dapat dinikmati bagi mereka yang tidak mengalami bagaimana rasanya ditinggalkan.