Hujan
dengan tiba-tiba turun deras, dengan langit yang terlihat masih benderang.
Hanya ada beberapa gerombolan awan yang seakan mendekat dan semakin terlihat
membesar. Ini yang sungguh aku harapkan. Air hujan yang tumpah ruah ke bumi,
seakan mewakili segala perasaan yang ingin aku keluarkan. Ringan namun menyesakkan,
pengap. Apalah aku, aku hanya rumput liar yang berada disekitarmu wahai kau pohon
rindang. Aku bukan saingan dia, yang pada kodratnya sudah seharusnya berada disisimu. Pohon sejenis mu
yang tumbuh berdampingan. Sekali lagi, aku hanya rumput liar. Kau selalu
bilang, kau ingin berada disampingku. Mungkin biasa bagimu. Bagiku? Kau tau,
artinya dalam sekali. Bahkan ketika aku tak berharap lagi, kau merentangkan
ranting dan daunmu, melindungiku dari sinar matahari. Aku katakan aku baik-baik
saja, namun kau tetap saja begitu. Aku pernah berharap pada Tuhan, untuk
menghidupkan aku lagi di tempat lain. Tempat yang jauh darimu. Tapi
kenyataannya aku tetap disini, disampingmu. Dan lagi melihatmu dengan dia. Kau
selalu meneteskan air sejuk yang kau punya padaku, yang dengan secepat kilat
akan menyejukkanku. Tapi aku tau, kau punya dia. Kenapa kau larang aku ketika
aku ingin melupakanmu? Rasanya seperti hanya ingin layu dan kupikir tak akan
lagi aku melihatmu. Melihatmu bersanding dengan dia. Seperti hal nya aku yang
tak bisa pergi. Seperti hal nya kamu yang tak juga bisa pergi. Berbahagialah,
aku baik-baik saja. Tapi kumohon jangan kau rentangkan lagi rantingmu untukku, jangan kau teteskan
lagi air sejuk itu untukku. Sepertinya semua orang sudah tau, kamu dan aku yang bukan –kita-. Tanah ini tak lagi bisa
bergeser, aku akan tetap disini, dan kau akan tetap ditempatmu.
Sabtu, 01 November 2014
Kamis, 13 Maret 2014
"Rumah" bukan Rumah
Bukan tentang seberapa luas, bukan tentang
taman di halaman depan, bukan tentang kolam renang besar di dalamnya, cukup “Rumah”
yang dapat kau temukan orang-orang yang kau sebut keluarga.
Bukan tentang desain rumah minimalis, bukan
tentang mebeul mahal nan elegan, cukup “Rumah” yang dapat kau temukan pelukan
seorang ibu, tempat bersandar di bahu seorang ayah, dan perlindungan ekstra
dari saudaramu.
Bukan tentang dapat berteduh saat terik,
bukan tentang dapat berlindung saat hujan, cukup “Rumah” yang adanya kau merasa
selalu ingin pulang, adanya tempat dimana kau bisa kembali dan merasa aman.
Entahlah, definisi itu seakan hilang, kini
tak ku temukan “Rumah” yang harapku bisa merasa pulang. Lalu, kemana seharusnya
aku?
Rumah itu tetap di tempatnya, tak bergerak
barang sejengkal. Namun mereka tak lengkap berada disana. Ada tempat lain yang
bisa kusinggahi agar menemukan mereka. Namun itu bukan rumahku. Lalu, kemana
seharusnya aku?
Aku hanya ingin pulang...
Kamis, 13 Februari 2014
Entah ini apa, sebut saja ini sebuah PENDAPAT dariku-untukmu
Sebuah atau lebih pelajaran memang bisa didapat dari mana saja. Dari percakapan kecil-pun terkadang melahirkan point penting untuk kehidupan. Obrolan saya pagi ini dengan Pak Arifin -Office Driver- membuat saya teringat akan tujuh orang luar biasa yang sudah bersama saya, membina hubungan baik kami selama lebih dari delapan tahun.
"Beberapa manager di perusahaan kita ini sohib loh, mereka temenan dari jaman mereka kuliah sampai sekarang. Umur mereka rata-rata sudah sekitar empat puluh lima" Terang Pak Arifin.
"Wah, seru ya pak. Ine juga sohiban sama tujuh orang. Ini sama Amel juga, kalau sama Amel sih kenal dari SD. Se-SD, se-SMP, se-SMA eh sekarang sekantor pula. Haha" Jawab ku sambil tertawa kecil.
"Tah, harusnya teh kalian bikin usaha bareng aja, bikin apa kek, tempat les misalnya. Bikin brosur, sebarin di perumahan-perumahan. Seru kalo bareng-bareng mah" sambung Pak Arifin semangat dan dengan logat sunda yang kental sekali.
"Haha, iya pak. Sebenernya emang rencana gitu, cuma gak jadi-jadi." Amel mendekat kemudian duduk di sebelahku. Obrolan kami pun mengembang.
Beberapa hari yang lalu aku dan Bety -satu dari tujuh orang yang kumaksud- bercakap sedikit dalam, tentang persahabatan kami beserta enam orang lainnya. Tentang waktu yang terasa semakin rawan, mengerus pelan-pelan sebuah ikatan. Jika tidak dijaga, khawatir akan terberai, berantakan.
Tentang sikap satu sama lain yang dirasa melampaui batas dari sudut pandang berbeda-beda. Tentang hubungan pertemanan yang kini terkesan (maaf) menjenuhkan.
Jika mengingat, banyak orang yang terbius dengan hubungan persahabatan kami. Apa yang terlihat dari kami terkesan selalu indah. Apa yang kami tunjukan selalu berhasil membuat beberapa orang di luar sana terpukau. Entah memang begitu atau hanya perasaanku saja. Yang aku rasa, persahabatan ini berbeda karena kami masing-masing tetap merasa bersatu, APAPUN YANG TERJADI. Entah, sakit hati, tersinggung, tak nyaman, kecewa, kami kubur untuk tetap menjaga hubungan baik ini tetap utuh. Khawatir pula, suatu saat tibalah semua hal tersebut meledak, apa mau dikata?
"Lo pernah gak kepikiran kalo karakter anak-anak selama ini gak real?" tanya Bety.
"Iya, gue masih berusaha mengenal mereka" jawabku sambil terus membayangkan mereka.
"Kedok, supaya semuanya aman, supaya terjaga. Inget, kita beradaptasi dengan tujuh orang yang berbeda-beda. Pacaran aja yang cuma satu orang, tetep aja ada yang ternyata gak habis pikir, dan ini tujuh orang lho!"
"Sebenernya mana sih yang lebih baik, berlaku se-real-nya tapi kemungkinan akan menyakiti. Tapi dengan alasan kalo kita udah tau satu sama lain gue rasa kita tau sebenernya niatnya apa. Atau, menutupi sesuatu, menunjukan sesuatu yang bukan dia dengan alasan menjaga perasaan. Tanggapan orang kan beda-beda, ada yang bilang jujur itu selalu lebih baik dan ada juga yang bilang bahwa lebih baik sedikit menutupi sesuatu untuk menjaga hati orang lain?"
"Susah sih kalo cari yang bener dan yang salah. Nyatuin satu maksud di delapan kepala itu susah. Jadi ya intinya, kita tau kapan kita harus egois, kapan kita harus menekan ego. Menjadi terus mengalah juga gak baik, ujung-ujungnya lo ditindas. Menjadi egois juga jelas-jelas gak baik, ujung-ujungnya lo bikin bengah orang.Ya, tetep harus menguasai kedua sifat itu di waktu yang tepat."
Ya.. jadi, harus fleksibel. Tapi mood dan sensitivitas kadang gak bisa diatur.
Oke, persahabatan ini memang bukan untuk 'menerima apa adanya' tetapi mebuat diri sendiri dan orang yang kita sayangi menjadi 'lebih baik lagi'.
Jika aku salah, ingatkan dan maafkan. Jika mereka salah, ingatkan dan maafkan.
Ada beberapa hal yang kadang lebih baik tersembunyi.
Ada beberapa hal yang kadang lebih baik diungkapkan.
Ada beberapa hal yang kadang lebih baik bagi seseorang, tetapi tidak lebih baik bagi yang lain.
"Kalau mau menyelesaikan masalah, ya kitanya harus keluar dulu dari masalah itu. Kalo enggak, ya pikiran kita jadi mumet. Ibaratin aja masalah itu bumi, kalau kita mau tau bumi itu seperti apa, ya kita harus ada di luar angkasa supaya keliatan." terang Pak Arifin, disambut anggukan-anggukan kecil aku dan Amel.
Ya, mereka bertujuh memang spesial. Entah seperti apa mereka, entah mau bagaimana sikapnya, akan selalu ada saja yang membuat kami kembali pada satu titik. Seperti bumi dan planet-planet di alam semesta yang berevolusi mengelilingi matahari, bergerak bersama, walau tetap membutuhkan rotasi untuk menyeimbangkan diri mereka sendiri-sendiri tanpa mesti merusak pergerakan yang lain. Mereka tetap pada jalurnya masing-masing.
Dunia kami, pandangan, pendapat dan cara kami menghadapi sesuatu akan selalu berbeda. Bukan sekali atau dua kali saja mengalami goncangan. Namun berapa kalipun goncangan itu terulang kembali, kami akan tetap disini, di porosnya, yang telah ditetapkan Tuhan sebagai jalan kami tetap bertemu.
14 Februari 2014
Teruntuk Ritar.
Yang aku sayangi..
Sabtu, 30 November 2013
Graduation Bear
Have your own Graduation bear Or give your greates friend A best gift ever!
They are charming teddy bear who wearing any kind of graduation robe Like UPI , UNPAD, UNIKOM, UIN,(ready on request another campus robe). Comes With the campus emblem also.
Reseller are welcome!
Contact 082182313128 or invite 75369AE5.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Berawal dari mimpi~
06 September 2012
Beberapa waktu yang lalu, ini hanya sebuah keinginan. Melakukan perjalanan panjang menelusuri jengkal-jengkal sebagian kecil dari tanah air ini. Modal yang tak banyak, waktu yang sedikit tergesa namun dengan harapan yang besar. Tepatnya adalah harapan yang mengembang seiring peluh yang dirasakan para mahasiswa-mahasiswi setelah bersahabat dengan dunia pendidikan pada semester akhir. Kami, "anak Sumatera yang beranjak menjelajahi dunia".
Pagi ini, tanggal enam September duaribu dua belas dengan carrier berisi perlengkapan yang diperkirakan cukup untuk dua minggu kedepan. Kami duduk di kursi kereta ekonomi saling berhadapan. Hanya kami berempat yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan perjalanan ini, setelah beberapa orang "gugur" dalam mimpi mereka untuk menggapai mimpi-mimpi lain. Masih tak menyangka hari ini terjadi. Kami berempat saling berpandangan.
"Hanya kami berempat.." kataku dalam hati.
"Masih gak nyangka bisa pergi juga, walaupun yang jadi cuma segini" ungkap Nova.
"Yah.. dan yang lain cuma bisa ikut nganter, padahal persiapan udah rampung serampung rampungnya. kak Jai, Enda, Ria, dan lain-lain. Hhh.. Sayang bener.." tambah Dika.
Aku dan Dika menginap di rumah Enda tadi malam, karena selain bisa berangkat bersamaan dengan Dika, rumah Enda pun tak jauh dari stasiun. Hanya butuh 5 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan Nova diantar Jai yang bertempat tinggal berdekatan.
Aku dan Dika menginap di rumah Enda tadi malam, karena selain bisa berangkat bersamaan dengan Dika, rumah Enda pun tak jauh dari stasiun. Hanya butuh 5 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan Nova diantar Jai yang bertempat tinggal berdekatan.
"Hahaha, yasudahlah yang penting kita sekarang jadi pergi. Pokoknya tetep pergi, yang penting jangan sendiri. Hehehe" Harry nimbrung dengan gayanya yang sok cuek.
Kami menghela nafas cukup dalam. Berdoa, semoga perjalanan ini lancar dan menyenangkan.
Bayangan tentang Pulau Sempu, Bromo dan Malang sudah lama membius pikiran kami. Tapi kali ini, bayangan itu menusuk-nusuk hingga menjalar keseluruh tubuh. Tetap optimis walaupun rasa khawatir masih saja ada. Sedikit berlebihan jika mengingat Bromo sudah menjadi tempat wisata yang siapapun bisa mengunjunginya, namun kami rasa kami berbeda, perjalanan kami lebih panjang, lebih lama dan lebih berkesan karena perjalanan kami tidak akan "biasa" tidak akan pernah menjadi "biasa".
Pukul 02.10 dini hari , 07 September 2012
Masih ada rasa kantuk yang mengendap walaupun sudah seharian ini melakukan aktivitas monoton (Tidur-ngemil-ngobrol-tidur-ngemil-ngobrol) untuk menghabiskan waktu di perjalanan yang baru saja dimulai. Dini hari ini, kami terpaksa terjaga karena kami harus melanjutkan perjalanan dari Bakau ke Merak menggunakan kapal ferry. Kembali berjalan, kembali memikul carrier yang "cukup" berat dan kembali mengumpulkan bagian-bagian puzzle yang akan kami rangkai di akhir nanti. Di jalur penumpang kapal kami bertemu dengan sekelompok orang dengan seragam hitam juga sedang berjalan menuju kapal. Terdapat tulisan INKANAS di seragam tersebut, dan terdapat pula tulisan KARATE di bagian samping tas punggung mereka. Sedikit penasaran, kami mengikuti mereka dari belakang dan berharap mendapatkan sebuah teguran persahabatan setelahnya.
Sesampainya di dalam kapal, kami duduk di luar ruangan. Merasakan angin malam yang dingin, lampu-lampu di daratan yang gemerlip dari kejauhan serta dilengkapi riak air di permukaan laut. Teguran yang dinantikan pun datang.
"Abis naik gunung mas?" tanya salah satu anggota kelompok berbaju hitam yang kami duga pemimpin mereka.
"Oh enggak mas, baru mau." jawab Harry kemudian.
"Oo, kirain abis dari Dempo, memangnya mau kemana?" tanyanya lagi.
"Mau ke Bromo mas"
"Naik apa?"
"Naik kereta dari Jakarta ke Malang mas rencananya"
"Udah ada tiket? susah loh kalau belum, sistem pembelian tiket sekarang udah beda soalnya"
"Belum mas.."
Percakapan itu terus mengalir, banyak hal yang kami dapat salah satunya tentang tiket yang rencananya akan kami beli di loket setibanya di Jakarta siang nanti ternyata sudah habis terjual dan tiket beberapa hari kedepan sudah sulit untuk didapatkan. Mereka yang memesan tiket dari dua hari yang lalu saja baru mendapatkan tiket untuk besok. Kami pun dengan senang hati memutuskan untuk ikut bersama mereka setelah ditawarkan untuk bergabung karena tujuan kami sama, yaitu Kota Malang dan kami sama-sama dari Pulau Sumatera.
Banyak cerita, satu jam pun berlalu. Tepat di tengah perjalanan Bakau-Merak, tanda peringatan kapal berbunyi dan dilanjutkan pemberitahuan dari nahkoda kapal bahwa kapal yang saat itu kami naiki mengalami kebocoran pipa. Kami diminta untuk tidak panik, tetap tenang dan terus berdoa. Aku merasa setengah sadar waktu itu, kantukku tak tertahan lagi. Angin malam itu pun mengelus manja, mengantarku tidur di sandaran carrier ku sendiri. Hangat. Setelah sebelumnya kulihat lampu-lampu di daratan semakin terang, kemudian bertambah terang setelah lampu kapal kami redup lalu mati. Indah, indah sekali. Tak lupa beberapa bintang yang berkedip seolah memintaku cepat tidur. Tenang, menenangkan, dan akupun tertidur tanpa ingat situasi genting yang sebenarnya sedang terjadi.
"Masih mati lampu, berarti bantuan belum datang" entah siapa yang berbicara, yang jelas suara itulah yang membangunkanku. Pukul setengah empat subuh. Angin laut masih dingin dan lampu kapal masih mati dan aku masih mengantuk. Kulirik teman-temanku yang lain, mereka juga tertidur. Untunglah semua tidak panik dan aku tertidur. Lagi.
Jam menunjukan pukul lima, kami terbangun serempak, bersyukur lampu kapal sudah hidup dan diketahui, kapal telah kembali normal. Nahkoda kembali menginformasikan kepada seluruh penumpang bahwa bantuan dari Merak telah cukup sigap dalam menangani gangguan kapal. Semuanya mengucap kata syukur. Kami semua masih baik-baik saja. Terimakasih Tuhan, Engkaupun memberikan kami ketenangan hati.
Pukul 08.30 , Stasiun Senen.
"Hari ini tak ada tiket kami dapat, besok? lusa? katanya sudah habis semua?" kata-kata itu berputar di otak kami masing-masing.
Setelah tiba di Stasiun, kami langsung menuju loket dan mendapatkan informasi bahwa tiket kereta api tujuan Malang dan Surabaya telah habis hingga tanggal 9 September. Ini berarti, jika kami benar-benar tidak mendapatkan tiket, kami akan menginap di stasiun selama 2 malam. Jakarta, dengan kesan "tak aman" yang dimilikinya.
Malam ini, kami dan Team Karate Inkanas menginap di tempat ini. Ternyata bukan hanya kami yang bermalam disana. Namun, kami lah yang membuat suasana stasiun malam itu ramai sekali. Para penumpang kereta api yang lain, baik yang akan segera berangkat atau yang mungkin juga bernasib sama dengan kami, tak lepas melemparkan pandangan mereka pada kami. Kami dengan perlengkapan camping lengkap. Seakan kami memang berencana menginap di Senen malam ini. Team Inkanas yang seru dan tak pernah habis bahan obrolan membuat kami tak pernah merasa bosan.
Malam semakin larut, stasiun semakin tak ramai, tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiri kami yang masih ramai dengan celotehan dan suara yang mengaduh mungkin sampai pada ujung koridor stasiun. Ibu itu terlihat bingung dan khawatir, ia membawa satu plastik hitam besar dan mengapit sebuah tas tangan dan kemudian bertanya. "bolehkah saya gabung?" , dengan semangat kami menjawab secara bersamaan "ayo bu mari, duduk bareng-bareng aja disini"
"Ibu darimana?" tanya Sensei, pelatih Karate Inkanas langsung.
"Dari Sumatera dek" ia menjawab dengan lemah. Mata kami membulat mendengar jawabannya dan refleks berteriak "waaah.. Sumateraa, sumatera mana bu?"
"Sumatera Selatan dek.. "
"Wooo.. Sumatera Selatan" Kami berteriak lagi.
"Wong kita galau , wong kito galau" teriak Onggok, salah satu dari team karate Inkanas. Ibu itu terlihat kaget dan masih terlihat bingung.
"Duduk sini bu, kami juga dari Sumatera, ini mereka dari Palembang dan kami berlima dari Lampung" terang Sensei. Sensei memang orang yang sangat bersahabat dengan siapa pun, supel dan ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Kesan pertama saat bertemu yaitu kasar dan angkuh ternyata sama sekali salah, begitu juga dengan empat orang anak murid nya. Mereka semua bersahabat.
Ibu itu bernama Susi, kami memutuskan memanggilnya dengan sebutan "ayuk" yang berarti "kakak" mengingat ia datang dari Sumatera Selatan tepatnya daerah Pagar Alam. Ia kebingungan karena setibanya di Stasiun Senen ia tidak mendapatkan tiket. Sama seperti kami, yang terpaksa menginap di tempat ini. Ia khawatir, dengan siapa dia bermalam disini, tak ada satupun orang yang ia kenal. Untuk pergi makan pun ia sulit, karna harus membawa plastik besar yang ternyata berisi kopi. Cukup berat. Bisa percaya pada siapa ia disini, di tempat yang dikenal "jahat" bagi pendatang. Ia takut. Berulang kali ia menangis, meminta bantuan kepada penjaga keamanan, dan orang sekitar. Namun penjaga keamanan pun tak bisa banyak membantu dan orang yang ia temui kebanyakan adalah orang yang akan segera berangkat dan telah memiliki tiket. Ia juga telah menelpon keluarganya di Malang (ternyata kota tujuan kami sama). Keluarganya ikut khawatir, namun tak dapat berbuat banyak. Sampai akhirnya ia menemukan kami. Wajahnya terlihat lelah, namun ada kelegaan di dalamnya.
Tengah malam, Stasiun Senen.
Sensei mengajak Harry dan Dika menemui seseorang. Aku dan teman yang lain tetap tinggal, mempersiapkan posisi untuk tidur. Tak lama kemudian Harry, Dika dan Sensei datang membawa kabar baik. Harry menyerahkan 5 lembar kertas bertuliskan "Jkt-Sby 14.20, 08 September 2012" . Kami tersenyum dan bersyukur kembali. Tuhan.. terimakasih..
08 September 2012, pukul 11.30.
Akan terjadi perpisahan untuk pertemuan pertama kami dengan team kamikaze great giant Inkanas siang ini. Jam keberangkatan kereta kami berbeda. Mereka berlima telah sangat banyak membantu kami. Tuhan sengaja mengirimkan mereka untuk memberi kami kemudahan, perjalanan menyenangkan walau perjalanan kami masih berjarak "sejengkal" dari rumah. Pertemuan yang singkat namun meninggalkan kenangan yang tak akan terlupakan, kesan baik dan diharapkan silaturahmi ini tak akan pernah putus.
Bahagia sekali mengenal mereka. Hati-hati sahabat.. semoga kita bisa bertemu lagi nanti.. Terimakasih untuk pertemuan ini.
Selepas mereka pergi, suasana mendadak sepi. Hanya ada kami berlima (Aku, Dika, Nova, Harry dan Yuk Susi), seperti merasakan ada yang hilang. Kami pun segera bergegas merapihkan barang kami, menggulung terpal kembali, merapikan carrier dan perlengkapan lainnya ditemani lalu lalang pengantar atau penumpang kereta api lain. Kami siap melanjutkan perjalanan panjang berikutnya.
Diperjalanan panjang menuju Surabaya, yang semula diwarnai kericuhan di pintu masuk karna padatnya manusia dengan tingkat keegoisan masing.masing, jadwal masuk ruang tunggu yang terlambat dan hal lainnya membuat kami sedikit "panas" namun tetap tak mengubah semangat kami menemui kota tujuan, Malang.
Kami berempat dan Yuk Susi bertambah akrab, bercerita apapun yang pernah kami alami, orang-orang yang kami sayangi, hingga kembali memutar cerita kami ketika pertama kali bertemu. Menyenangkan.
09 September 2012, pukul 05.10. Stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Pagi ini terang sekali, tak seperti Palembang yang masih gelap di pukul 05.30. Kami tiba di stasiun Pasar Turi, ada yang menunggu kami disana rupanya. Suami Yuk Susi yang memang menetap cukup lama disana menjemput kami. Kemudian ia mengantar kami kerumah kerabat terdekat Yuk Susi di Malang, Yuk Erin. Tak pernah menyangka akan bertemu orang-orang se'hangat' mereka di tempat yang jauh dari rumah, tiada sanak maupun teman yang kami punya di kota ini sebelumnya. Merasa beruntung sekali, kami disambut hangat keluarga besar Bapak Kgs Arifin. Mereka semua ramai berdatangan ke rumah saudara mereka tempat kami menginap. Aku, Dika, Harry dan Nova terpukau dengan kebiasaan mereka yang terlihat begitu menghangatkan itu, mengecup kening dan mencium pipi kanan dan kiri ketika bertemu plus pelukan hangat ketika mereka pulang. Hangat sekali, keluarga ini menakjubkan.
Kami pun dijamu dengan sangat baik, lebih tepatnya kami itu sangat merepotkan!
10 September 2012
Hari ini belum ada kegiatan "trip" menuju tempat-tempat di Malang kami lanjutkan. Kami masih mengumpulkan lebih banyak lagi energi untuk menuju tempat tujuan. Sempu, Bromo dan lain-lain. Kami berencana akan menuju Sempu esok hari, menginap untuk semalam disana kemudian kembali ke rumah ini. Suami dari Yuk Susi yang mengantar kami kemarin mengirimkan seseorang untuk menemui kami, untuk membantu kami menuju Sempu dan menyiapkan mobil sewaan untuk kami pakai esok. Kami sangat berterima kasih untuk niat baik Pak ___ membantu kami. Namun, keesokan harinya, ketika semuanya sudah siap dan rencana untuk beberapa hari kedepanpun sudah matang. Permasalahan tak terduga datang. Driver dan "perantara" mobil sewaan kami tidak ada kabar sama sekali, panggilan pun tak kunjung dijawab. Kami mulai khawatir, waktu tiba untuk menjemput kami pun sudah lewat 3 jam. DP kendaraan pun sudah kami bayar. Kecewa sekali rasanya. Sempu... oh Sempu...
Satu jam kemudian driver dan "perantara" itu pun datang, kami sudah malas menghadapi mereka. Alasanpun mereka keluarkan lebih dari satu, mulai dari tidak ada kendaraan (What? seharusnya ini sudah mereka siapkan ketika berani mengatakan "deal"), mobil pecah ban (Ada alasan lain yang lebih logis?), kemudian macet (well, cukup!).
Kami pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan kerjasama. Namun sepertinya pihak musuh tidak ingin rugi. Salah satu dari mereka mengatakan "kami tidak membawa cukup uang untuk mengembalikan uang DP, sisanya akan saya antarkan nanti malam" namun sampai pagi keesokan harinya, batang hidung mereka tidak lagi kelihatan, dan yang paling menyesakan adalah kami tidak jadi ke Sempu.
Ada hikmah dibalik kekecewaan~
Malam ini, keluarga besar dari Bapak Kgs. Aripin berkumpul. Kami kembali bertemu keluarga-keluarga baru yang menakjubkan. Om Hendri (Kakak dari Yuk Susi) datang dan bercerita banyak hal, mulai dari tempat-tempat wisata di Malang, hingga sharing mengenai perjalanannya terdahulu menyangkut pula tujuan kami berani melakukan perjalanan panjang dari Pulau Sumatera. Kami juga diperkenalkan dengan dua orang anaknya, Mas Angga dan Soma yang sengaja Ia panggil untuk bertemu dengan kami di rumah Yuk Erin. Kami juga baru mengetahui, bahwa ternyata Suami Yuk Erin adalah penulis Internasional yang namanya sudah sangat familiar di dunia Jurnalistik, yaitu Mas Akaha Taufan Aminudin. Penulis asli Batu ini memiliki kesan yang "dingin" pada saat kami pertama kali bertemu, ada rasa segan untuk berbicara banyak padanya. Namun ternyata, sosok Mas Akaha adalah sosok yang sangat sangat humoris. Penulis yang romantis dan lucu sekali. Selalu saja ada hal menarik yang keluar dari kata-katanya. Sosok yang dapat merubah suasana menjadi meriah, dan cara tertawanya itu selalu kami ingat, terdengar sangat menikmati apa yang Ia tertawakan, sehingga membuat kami pun ikut berada dalam keriangan suasananya. Semalam saja begini, kami sudah merasa sangat dekat dengan keluarga besar ini. Nyaman sekali..
Kalau kami tadi jadi ke Sempu, kami tak akan bertemu moment berharga ini~
11 September 2012
Hari ini kami bersiap menuju Bromo. Setelah menerima banyak masukan dari Om Hendri, Mas Akaha dan keluarga yang lain, kami memutuskan untuk semalam saja menetap di Bromo, berubah dari rencana sebelumnya yang diperkirakan dua hingga tiga hari. Kami mulai mempersiapkan kembali carrier yang akan kami bawa. Wak Ibu (Ibu dari Yuk Susi) terlihat khawatir melepas kami pergi. Beliau memang tulus sekali. Tuturnya yang lembut, nada bicara yang selalu sopan, khas Jawa nya kental sekali. Ramah. Kata-kata Wak Ibu yang selalu kami ingat adalah ketika beliau bercerita dan beliau memanggil kami dengan sebutan "Nduk". Terlebih aku, yang merasa sangat senang sekali mendapatkan julukan "ragil" dari beliau.
Pukul sepuluh pagi, kami berangkat menuju Bromo melalui jalur Probolinggo~
Sekitar pukul dua siang kami tiba di terminal mobil jalur Bromo. Kami menjadi penumpang pertama yang datang menempati tempat duduk. Belum ada penumpang lain yang terlihat. Kami menunggu di sebuah warung makan sambil menumpang mengisi baterai. Sudah cukup lama kami menunggu, satu jam sudah lewat. Kami kembali melihat kearah mobil, terlihat ada dua orang warga negara asing yang sedang menaiki barang bawaan mereka diatas mobil. Seorang pemuda dan seorang pemudi berumur sekitar dua puluh lima yang sepertinya sedang dimabuk cinta. Kami berempat melihat mereka kemudian saling berpandangan.
Waktu menunjukan pukul empat sore, kami sudah terlalu kesal menunggu. Begitu juga dengan dua orang bule di bangku paling belakang sepertinya. Ditengah hening, seorang bule (lagi) memasuki mobil dan duduk di tengah barisan bangku antara kami berempat dan dua orang pasangan bule sebelumnya. Dia tersenyum ramah.
Dia bernama Ula~
Kami berempat dan Ula ( bule berumur dua puluh lima) berkenalan saat kami hampir sampai daerah penginapan di Cemoro Lawang. Dia merupakan warga negara Ukraina berparas cantik, ramah dan sepertinya sangat berjiwa petualang. Dia bercerita bahwa tujuannya ke Indonesia adalah mengunjungi Candi Borobudur. Sejak umurnya sepuluh tahun, neneknya memberikan sebuah majalah ber-cover photo Candi Borobudur-Indonesia. Dia sangat penasaran, ternyata di dunia ini ada tempat seperti ini. Batu-batuan yang tersusun rapi, kekentalan budaya di dalamnya, serta berbau sejarah. Sejak saat itulah dia bertekad untuk menuju tempat itu. Keberaniannya untuk melakukan perjalanan panjang ini sendiri, mendaki gunung, melewati gurun-gurun pasir dan tempat-tempat yang sulit dicapai sudah ia latih sejak ia berumur tujuh belas. Sehingga akhirnya dia memutuskan menelusuri negara Ini, menjelajahi pulau ke pulau, di mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta, melewati Provinsi Jawa Barat menuju Bali, menetap untuk beberapa hari, kemudian menuju Lombok, kemudian kesini, Gunung Bromo. Dia menceritakan juga pengalamannya di Pulau Bali, disana dia memiliki ibu angkat yang menemukannya ketika dia berjalan di suatu perkampungan sarat penduduk yang jauh dari daerah wisata. Ibu itu meminjamkannya sebuah sepeda motor yang dapat dia pakai kemanapun mengitari Bali. Di kota turis ini pula, dia sempat mengalami kecelakaan, dia terpaksa mengerem mendadak sepeda motornya untuk menghindari seekor anjing yang menyebrang tiba-tiba di depannya. Dia tidak ingin menabrak dan melukai anjing tersebut. Namun itu berarti dia terpaksa melukai dirinya sendiri. Kakinya berdarah, banyak sekali luka yang memenuhi badannya. Kami berempat masih bisa melihat lukanya. Cukup besar di bagian kaki, terbuka begitu saja tanpa perban. Separuhnya masih berdarah-darah ngeri sekali. Tapi dia terlihat baik-baik saja.
Bule satu ini ternyata tidak terlalu menyukai Bali, karena dia pikir Bali tidak terasa Indonesia. Sudah banyak orang luar -bule sepertinya- memenuhi Bali dan itu bukanlah yang ia cari. Dia masih tidak bisa menunggu untuk tempat-tempat tujuannya berikutnya. Semeru dan Yogya. Kami ternganga mendengar bule satu ini bercerita. Kagum. Perempuan, cantik, sendirian melakukan perjalanan sejauh itu, hanya bermodalkan tas (bukan carrier) dan terdapat satu buku full tentang Indonesia. Fabulous!
Hari semakin gelap dan suhu dingin di Bromo mulai menusuk-nusuk, tiga lapis pakaian hangat pun rasanya kurang.
13 September 2012
Pukul 04.30
Matahari masih malu-malu terbit, namun kami telah bersiap menyambutnya di penanjakan Bromo. Indah sekali. Tak banyak yang bisa kami ucapkan, hanya kekaguman melihat salah satu lukisan Tuhan yang maha agung.
Inilah keindahannya~
14 September 2013
Pagi yang indah, masih di Cemoro lawang.
Kami bersiap untuk kembali ke Malang, kembali ke rumah Bpk. Akaha dan kembali merepotkan mereka.
Kami berencana, sesampainya disana kami akan mengemasi barang-barang, menjelajahi Malang (lagi) dan kemudian kembali ke Palembang. Namun ternyata ketika tiba disana, keluarga ini sedang dalam moment berbahagia, Yuk Erin -Istri dari Bpk. Akaha- sedang berulang tahun tepat hari ini. Kedatangan kami disambut sangat baik, kami pun diminta ikut untuk perayaannya malam nanti. Mereka pun tak memberi izin untuk niat kami melanjutkan perjalanan hari itu. (Tuhan, sungguh Engkau yang mengatur semuanya..). Berkumpul dengan keluarga indah ini lagi...
Keesokan harinya..
Hari yang cerah untuk memulai kembali perjalanan kami, setelah banyak mendapatkan masukan, kami pun berpamitan dan memutuskan untuk menjelajahi Kota Batu dan menginap di salah satu area perkemahan disana. Ya, kami akan berkemah! Coban Talun, tujuan kami berikutnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari kota Malang, akhirnya kami sampai di tempat ini. Untuk mencapai air terjun ini, kami harus melalui jalan turunan yang berliku dimulai dari gerbang tempat kami masuk area perkemahan. Perjalanan ini cukup jauh, lama dan banyak menyita tenaga. Mengingat barang bawaan kami tidak sedikit. Namun kami tetap berharap untuk segera menemukan air segar dan lukisan Tuhan lainnya. Dan, inilah Coban Talun itu~
Pagi hari ini kami disambut wanginya dedaunan, diiringi suara aliran air di bawah sana~
Sungguh, nikmat Tuhan takkan pernah habis..
Well, cerita indah ini belum berakhir, hidup ini masih panjang :D
"Masih mati lampu, berarti bantuan belum datang" entah siapa yang berbicara, yang jelas suara itulah yang membangunkanku. Pukul setengah empat subuh. Angin laut masih dingin dan lampu kapal masih mati dan aku masih mengantuk. Kulirik teman-temanku yang lain, mereka juga tertidur. Untunglah semua tidak panik dan aku tertidur. Lagi.
Jam menunjukan pukul lima, kami terbangun serempak, bersyukur lampu kapal sudah hidup dan diketahui, kapal telah kembali normal. Nahkoda kembali menginformasikan kepada seluruh penumpang bahwa bantuan dari Merak telah cukup sigap dalam menangani gangguan kapal. Semuanya mengucap kata syukur. Kami semua masih baik-baik saja. Terimakasih Tuhan, Engkaupun memberikan kami ketenangan hati.
Pukul 08.30 , Stasiun Senen.
"Hari ini tak ada tiket kami dapat, besok? lusa? katanya sudah habis semua?" kata-kata itu berputar di otak kami masing-masing.
Setelah tiba di Stasiun, kami langsung menuju loket dan mendapatkan informasi bahwa tiket kereta api tujuan Malang dan Surabaya telah habis hingga tanggal 9 September. Ini berarti, jika kami benar-benar tidak mendapatkan tiket, kami akan menginap di stasiun selama 2 malam. Jakarta, dengan kesan "tak aman" yang dimilikinya.
Malam ini, kami dan Team Karate Inkanas menginap di tempat ini. Ternyata bukan hanya kami yang bermalam disana. Namun, kami lah yang membuat suasana stasiun malam itu ramai sekali. Para penumpang kereta api yang lain, baik yang akan segera berangkat atau yang mungkin juga bernasib sama dengan kami, tak lepas melemparkan pandangan mereka pada kami. Kami dengan perlengkapan camping lengkap. Seakan kami memang berencana menginap di Senen malam ini. Team Inkanas yang seru dan tak pernah habis bahan obrolan membuat kami tak pernah merasa bosan.
Malam semakin larut, stasiun semakin tak ramai, tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiri kami yang masih ramai dengan celotehan dan suara yang mengaduh mungkin sampai pada ujung koridor stasiun. Ibu itu terlihat bingung dan khawatir, ia membawa satu plastik hitam besar dan mengapit sebuah tas tangan dan kemudian bertanya. "bolehkah saya gabung?" , dengan semangat kami menjawab secara bersamaan "ayo bu mari, duduk bareng-bareng aja disini"
"Ibu darimana?" tanya Sensei, pelatih Karate Inkanas langsung.
"Dari Sumatera dek" ia menjawab dengan lemah. Mata kami membulat mendengar jawabannya dan refleks berteriak "waaah.. Sumateraa, sumatera mana bu?"
"Sumatera Selatan dek.. "
"Wooo.. Sumatera Selatan" Kami berteriak lagi.
"Wong kita galau , wong kito galau" teriak Onggok, salah satu dari team karate Inkanas. Ibu itu terlihat kaget dan masih terlihat bingung.
"Duduk sini bu, kami juga dari Sumatera, ini mereka dari Palembang dan kami berlima dari Lampung" terang Sensei. Sensei memang orang yang sangat bersahabat dengan siapa pun, supel dan ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Kesan pertama saat bertemu yaitu kasar dan angkuh ternyata sama sekali salah, begitu juga dengan empat orang anak murid nya. Mereka semua bersahabat.
Ibu itu bernama Susi, kami memutuskan memanggilnya dengan sebutan "ayuk" yang berarti "kakak" mengingat ia datang dari Sumatera Selatan tepatnya daerah Pagar Alam. Ia kebingungan karena setibanya di Stasiun Senen ia tidak mendapatkan tiket. Sama seperti kami, yang terpaksa menginap di tempat ini. Ia khawatir, dengan siapa dia bermalam disini, tak ada satupun orang yang ia kenal. Untuk pergi makan pun ia sulit, karna harus membawa plastik besar yang ternyata berisi kopi. Cukup berat. Bisa percaya pada siapa ia disini, di tempat yang dikenal "jahat" bagi pendatang. Ia takut. Berulang kali ia menangis, meminta bantuan kepada penjaga keamanan, dan orang sekitar. Namun penjaga keamanan pun tak bisa banyak membantu dan orang yang ia temui kebanyakan adalah orang yang akan segera berangkat dan telah memiliki tiket. Ia juga telah menelpon keluarganya di Malang (ternyata kota tujuan kami sama). Keluarganya ikut khawatir, namun tak dapat berbuat banyak. Sampai akhirnya ia menemukan kami. Wajahnya terlihat lelah, namun ada kelegaan di dalamnya.
Tengah malam, Stasiun Senen.
Sensei mengajak Harry dan Dika menemui seseorang. Aku dan teman yang lain tetap tinggal, mempersiapkan posisi untuk tidur. Tak lama kemudian Harry, Dika dan Sensei datang membawa kabar baik. Harry menyerahkan 5 lembar kertas bertuliskan "Jkt-Sby 14.20, 08 September 2012" . Kami tersenyum dan bersyukur kembali. Tuhan.. terimakasih..
08 September 2012, pukul 11.30.
Akan terjadi perpisahan untuk pertemuan pertama kami dengan team kamikaze great giant Inkanas siang ini. Jam keberangkatan kereta kami berbeda. Mereka berlima telah sangat banyak membantu kami. Tuhan sengaja mengirimkan mereka untuk memberi kami kemudahan, perjalanan menyenangkan walau perjalanan kami masih berjarak "sejengkal" dari rumah. Pertemuan yang singkat namun meninggalkan kenangan yang tak akan terlupakan, kesan baik dan diharapkan silaturahmi ini tak akan pernah putus.
Bahagia sekali mengenal mereka. Hati-hati sahabat.. semoga kita bisa bertemu lagi nanti.. Terimakasih untuk pertemuan ini.
Selepas mereka pergi, suasana mendadak sepi. Hanya ada kami berlima (Aku, Dika, Nova, Harry dan Yuk Susi), seperti merasakan ada yang hilang. Kami pun segera bergegas merapihkan barang kami, menggulung terpal kembali, merapikan carrier dan perlengkapan lainnya ditemani lalu lalang pengantar atau penumpang kereta api lain. Kami siap melanjutkan perjalanan panjang berikutnya.
Diperjalanan panjang menuju Surabaya, yang semula diwarnai kericuhan di pintu masuk karna padatnya manusia dengan tingkat keegoisan masing.masing, jadwal masuk ruang tunggu yang terlambat dan hal lainnya membuat kami sedikit "panas" namun tetap tak mengubah semangat kami menemui kota tujuan, Malang.
Kami berempat dan Yuk Susi bertambah akrab, bercerita apapun yang pernah kami alami, orang-orang yang kami sayangi, hingga kembali memutar cerita kami ketika pertama kali bertemu. Menyenangkan.
09 September 2012, pukul 05.10. Stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Pagi ini terang sekali, tak seperti Palembang yang masih gelap di pukul 05.30. Kami tiba di stasiun Pasar Turi, ada yang menunggu kami disana rupanya. Suami Yuk Susi yang memang menetap cukup lama disana menjemput kami. Kemudian ia mengantar kami kerumah kerabat terdekat Yuk Susi di Malang, Yuk Erin. Tak pernah menyangka akan bertemu orang-orang se'hangat' mereka di tempat yang jauh dari rumah, tiada sanak maupun teman yang kami punya di kota ini sebelumnya. Merasa beruntung sekali, kami disambut hangat keluarga besar Bapak Kgs Arifin. Mereka semua ramai berdatangan ke rumah saudara mereka tempat kami menginap. Aku, Dika, Harry dan Nova terpukau dengan kebiasaan mereka yang terlihat begitu menghangatkan itu, mengecup kening dan mencium pipi kanan dan kiri ketika bertemu plus pelukan hangat ketika mereka pulang. Hangat sekali, keluarga ini menakjubkan.
Kami pun dijamu dengan sangat baik, lebih tepatnya kami itu sangat merepotkan!
10 September 2012
Hari ini belum ada kegiatan "trip" menuju tempat-tempat di Malang kami lanjutkan. Kami masih mengumpulkan lebih banyak lagi energi untuk menuju tempat tujuan. Sempu, Bromo dan lain-lain. Kami berencana akan menuju Sempu esok hari, menginap untuk semalam disana kemudian kembali ke rumah ini. Suami dari Yuk Susi yang mengantar kami kemarin mengirimkan seseorang untuk menemui kami, untuk membantu kami menuju Sempu dan menyiapkan mobil sewaan untuk kami pakai esok. Kami sangat berterima kasih untuk niat baik Pak ___ membantu kami. Namun, keesokan harinya, ketika semuanya sudah siap dan rencana untuk beberapa hari kedepanpun sudah matang. Permasalahan tak terduga datang. Driver dan "perantara" mobil sewaan kami tidak ada kabar sama sekali, panggilan pun tak kunjung dijawab. Kami mulai khawatir, waktu tiba untuk menjemput kami pun sudah lewat 3 jam. DP kendaraan pun sudah kami bayar. Kecewa sekali rasanya. Sempu... oh Sempu...
Satu jam kemudian driver dan "perantara" itu pun datang, kami sudah malas menghadapi mereka. Alasanpun mereka keluarkan lebih dari satu, mulai dari tidak ada kendaraan (What? seharusnya ini sudah mereka siapkan ketika berani mengatakan "deal"), mobil pecah ban (Ada alasan lain yang lebih logis?), kemudian macet (well, cukup!).
Kami pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan kerjasama. Namun sepertinya pihak musuh tidak ingin rugi. Salah satu dari mereka mengatakan "kami tidak membawa cukup uang untuk mengembalikan uang DP, sisanya akan saya antarkan nanti malam" namun sampai pagi keesokan harinya, batang hidung mereka tidak lagi kelihatan, dan yang paling menyesakan adalah kami tidak jadi ke Sempu.
Ada hikmah dibalik kekecewaan~
Malam ini, keluarga besar dari Bapak Kgs. Aripin berkumpul. Kami kembali bertemu keluarga-keluarga baru yang menakjubkan. Om Hendri (Kakak dari Yuk Susi) datang dan bercerita banyak hal, mulai dari tempat-tempat wisata di Malang, hingga sharing mengenai perjalanannya terdahulu menyangkut pula tujuan kami berani melakukan perjalanan panjang dari Pulau Sumatera. Kami juga diperkenalkan dengan dua orang anaknya, Mas Angga dan Soma yang sengaja Ia panggil untuk bertemu dengan kami di rumah Yuk Erin. Kami juga baru mengetahui, bahwa ternyata Suami Yuk Erin adalah penulis Internasional yang namanya sudah sangat familiar di dunia Jurnalistik, yaitu Mas Akaha Taufan Aminudin. Penulis asli Batu ini memiliki kesan yang "dingin" pada saat kami pertama kali bertemu, ada rasa segan untuk berbicara banyak padanya. Namun ternyata, sosok Mas Akaha adalah sosok yang sangat sangat humoris. Penulis yang romantis dan lucu sekali. Selalu saja ada hal menarik yang keluar dari kata-katanya. Sosok yang dapat merubah suasana menjadi meriah, dan cara tertawanya itu selalu kami ingat, terdengar sangat menikmati apa yang Ia tertawakan, sehingga membuat kami pun ikut berada dalam keriangan suasananya. Semalam saja begini, kami sudah merasa sangat dekat dengan keluarga besar ini. Nyaman sekali..
Kediaman Bpk. Akaha Taufan Aminudin , Malang.
Stadion Gajayana, Malang
Masjid Musiman Kota Malang
Kalau kami tadi jadi ke Sempu, kami tak akan bertemu moment berharga ini~
11 September 2012
Hari ini kami bersiap menuju Bromo. Setelah menerima banyak masukan dari Om Hendri, Mas Akaha dan keluarga yang lain, kami memutuskan untuk semalam saja menetap di Bromo, berubah dari rencana sebelumnya yang diperkirakan dua hingga tiga hari. Kami mulai mempersiapkan kembali carrier yang akan kami bawa. Wak Ibu (Ibu dari Yuk Susi) terlihat khawatir melepas kami pergi. Beliau memang tulus sekali. Tuturnya yang lembut, nada bicara yang selalu sopan, khas Jawa nya kental sekali. Ramah. Kata-kata Wak Ibu yang selalu kami ingat adalah ketika beliau bercerita dan beliau memanggil kami dengan sebutan "Nduk". Terlebih aku, yang merasa sangat senang sekali mendapatkan julukan "ragil" dari beliau.
Pukul sepuluh pagi, kami berangkat menuju Bromo melalui jalur Probolinggo~
Sekitar pukul dua siang kami tiba di terminal mobil jalur Bromo. Kami menjadi penumpang pertama yang datang menempati tempat duduk. Belum ada penumpang lain yang terlihat. Kami menunggu di sebuah warung makan sambil menumpang mengisi baterai. Sudah cukup lama kami menunggu, satu jam sudah lewat. Kami kembali melihat kearah mobil, terlihat ada dua orang warga negara asing yang sedang menaiki barang bawaan mereka diatas mobil. Seorang pemuda dan seorang pemudi berumur sekitar dua puluh lima yang sepertinya sedang dimabuk cinta. Kami berempat melihat mereka kemudian saling berpandangan.
Waktu menunjukan pukul empat sore, kami sudah terlalu kesal menunggu. Begitu juga dengan dua orang bule di bangku paling belakang sepertinya. Ditengah hening, seorang bule (lagi) memasuki mobil dan duduk di tengah barisan bangku antara kami berempat dan dua orang pasangan bule sebelumnya. Dia tersenyum ramah.
Dia bernama Ula~
Kami berempat dan Ula ( bule berumur dua puluh lima) berkenalan saat kami hampir sampai daerah penginapan di Cemoro Lawang. Dia merupakan warga negara Ukraina berparas cantik, ramah dan sepertinya sangat berjiwa petualang. Dia bercerita bahwa tujuannya ke Indonesia adalah mengunjungi Candi Borobudur. Sejak umurnya sepuluh tahun, neneknya memberikan sebuah majalah ber-cover photo Candi Borobudur-Indonesia. Dia sangat penasaran, ternyata di dunia ini ada tempat seperti ini. Batu-batuan yang tersusun rapi, kekentalan budaya di dalamnya, serta berbau sejarah. Sejak saat itulah dia bertekad untuk menuju tempat itu. Keberaniannya untuk melakukan perjalanan panjang ini sendiri, mendaki gunung, melewati gurun-gurun pasir dan tempat-tempat yang sulit dicapai sudah ia latih sejak ia berumur tujuh belas. Sehingga akhirnya dia memutuskan menelusuri negara Ini, menjelajahi pulau ke pulau, di mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta, melewati Provinsi Jawa Barat menuju Bali, menetap untuk beberapa hari, kemudian menuju Lombok, kemudian kesini, Gunung Bromo. Dia menceritakan juga pengalamannya di Pulau Bali, disana dia memiliki ibu angkat yang menemukannya ketika dia berjalan di suatu perkampungan sarat penduduk yang jauh dari daerah wisata. Ibu itu meminjamkannya sebuah sepeda motor yang dapat dia pakai kemanapun mengitari Bali. Di kota turis ini pula, dia sempat mengalami kecelakaan, dia terpaksa mengerem mendadak sepeda motornya untuk menghindari seekor anjing yang menyebrang tiba-tiba di depannya. Dia tidak ingin menabrak dan melukai anjing tersebut. Namun itu berarti dia terpaksa melukai dirinya sendiri. Kakinya berdarah, banyak sekali luka yang memenuhi badannya. Kami berempat masih bisa melihat lukanya. Cukup besar di bagian kaki, terbuka begitu saja tanpa perban. Separuhnya masih berdarah-darah ngeri sekali. Tapi dia terlihat baik-baik saja.
Bule satu ini ternyata tidak terlalu menyukai Bali, karena dia pikir Bali tidak terasa Indonesia. Sudah banyak orang luar -bule sepertinya- memenuhi Bali dan itu bukanlah yang ia cari. Dia masih tidak bisa menunggu untuk tempat-tempat tujuannya berikutnya. Semeru dan Yogya. Kami ternganga mendengar bule satu ini bercerita. Kagum. Perempuan, cantik, sendirian melakukan perjalanan sejauh itu, hanya bermodalkan tas (bukan carrier) dan terdapat satu buku full tentang Indonesia. Fabulous!
Penginapan di Cemoro Lawang, Bromo.
Hari semakin gelap dan suhu dingin di Bromo mulai menusuk-nusuk, tiga lapis pakaian hangat pun rasanya kurang.
13 September 2012
Pukul 04.30
Matahari masih malu-malu terbit, namun kami telah bersiap menyambutnya di penanjakan Bromo. Indah sekali. Tak banyak yang bisa kami ucapkan, hanya kekaguman melihat salah satu lukisan Tuhan yang maha agung.
Inilah keindahannya~
Sampai nanti, sampai bertemu lagi Bromo..
14 September 2013
Pagi yang indah, masih di Cemoro lawang.
Kami bersiap untuk kembali ke Malang, kembali ke rumah Bpk. Akaha dan kembali merepotkan mereka.
Kami berencana, sesampainya disana kami akan mengemasi barang-barang, menjelajahi Malang (lagi) dan kemudian kembali ke Palembang. Namun ternyata ketika tiba disana, keluarga ini sedang dalam moment berbahagia, Yuk Erin -Istri dari Bpk. Akaha- sedang berulang tahun tepat hari ini. Kedatangan kami disambut sangat baik, kami pun diminta ikut untuk perayaannya malam nanti. Mereka pun tak memberi izin untuk niat kami melanjutkan perjalanan hari itu. (Tuhan, sungguh Engkau yang mengatur semuanya..). Berkumpul dengan keluarga indah ini lagi...
Hari yang cerah untuk memulai kembali perjalanan kami, setelah banyak mendapatkan masukan, kami pun berpamitan dan memutuskan untuk menjelajahi Kota Batu dan menginap di salah satu area perkemahan disana. Ya, kami akan berkemah! Coban Talun, tujuan kami berikutnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari kota Malang, akhirnya kami sampai di tempat ini. Untuk mencapai air terjun ini, kami harus melalui jalan turunan yang berliku dimulai dari gerbang tempat kami masuk area perkemahan. Perjalanan ini cukup jauh, lama dan banyak menyita tenaga. Mengingat barang bawaan kami tidak sedikit. Namun kami tetap berharap untuk segera menemukan air segar dan lukisan Tuhan lainnya. Dan, inilah Coban Talun itu~
Pagi hari ini kami disambut wanginya dedaunan, diiringi suara aliran air di bawah sana~
Sungguh, nikmat Tuhan takkan pernah habis..
Well, cerita indah ini belum berakhir, hidup ini masih panjang :D
Jumat, 02 Agustus 2013
Hujan yang tunjukan aku
Pagi ini, aku bangun dengan perasaan biasa-biasa saja. Kutarik nafas panjang dan menggeliat malas masih di atas kasur tersayangku. Di luar hujan, ketika kemudian aku beranjak dan membuka jendela petak di kamar berukuran 4x5 meter ini. Bau dan rintik-rintiknya menenangkan. Aku pejamkan mata sejenak, dan kembali membukanya sedikit terburu, khawatir pikiran ini melayang terlalu jauh, menghipnotis alam sadar yang terensonansi menuju cerita-cerita lama yang tak wajar dikenang terlalu dalam. kemudian aku tersenyum kecil dan menghela nafasku pelan.
Dua buah coklat mengakrabkan diri dengan kepalaku. Ada yang sengaja merapatkan keduanya. Lumayan (re:sakit). Tapi bukan masalah, karena pada akhirnya, coklat itulah yang membuatku tersenyum, dan tentu saja si pembawanya.
Aku tersenyum seraya menenggelamkan diri di bantal besar dari sofa ruang tengah. Ada dia disampingku saat ini. Moodku yang berantakan hilang seketika ketika dia datang beberapa menit kemudian. Dan terpenjara oleh hujan deras yang datang tiba-tiba malam itu.
Terimakasih hujan...
Sampai pada pukul sebelas malam, dia tembus hujan yang sudah mulai mereda. Waktunya dia pulang. Dan aku tetap tinggal dengan euforia kebahagian yang tak hilang-hilang bahkan hingga aku bangun dari tidurku keesokan harinya.
Aku berjalan sedikit bergegas di koridor kampus, mengingat jam sudah menunjuk pukul 08.20. Ini berarti waktuku untuk tidak terlambat tersisa sepuluh menit lagi. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Tidurmu nyenyak malam ini?" tanya seorang sahabatku Lia.
"Kenapa?" Jawabku agak ketus. Dia menghela nafasnya pelan.
"Gak apa" jawabnya lagi seraya tersenyum. Dan aku balas senyumnya dengan senyum manis, ya semanis mungkin.
"Udah beres semua?"
"Udah. Mau pulang?"
"Iya, yaudah bareng aja" Dan aku hanya membalasnya dengan satu senyuman.
Bus mahasiswa sore ini tak kalah ramai dari hari kemarin. Kursinya terisi full bahkan ada sebagian penumpang berdiri di pertengahan. Namun aku merasa hanya berdua saja. Denganmu, saat hujan turun seperti ini. Hanya satu hal yang aku ingini. Ku harap waktu berhenti saat ini juga.
"Woi! Melamun?" Suara nyaring Lia lagi-lagi menyadarkanku. Terasa seperti dihantam keping baja dengan bobot berton-ton. Aku menarik nafasku dan kemudian menghelanya sedikit lebih kencang. Lelah, itu pikirku.
"Pulang yuk" ajakku pada Lia, seraya mengambil tas tangan di kursi sebelah tempat dudukku.
Waktu menunjukan pukul 10.00 pagi. Aku sudah selesai bersiap-siap untuk pergi keluar siang ini. Dia beserta bandnya akan tampil dalam peringatan hari AIDS dunia di Balai kota. Walaupun waktu yang ditentukan untuk bertemu dengannya hari ini masih 1 jam lagi, aku sudah siap dengan senyum terbaikku. Sambil memegang handphone, aku menunggunya menjemput dengan perasaan yang luar biasa ini. Ada pesan singkat masuk sepuluh menit kemudian.
"Syg, bisa dateng kan?" Tak lama dari itu aku langsung membalasnya.
"Iya syg, bisa. Jd jmput tp kan?"
Cukup lama aku menunggu balasan, pikiran-pikiran negatif itu mulai muncul. Sampai akhirnya, handphoneku kembali bergetar.
"Nah, itulah mslhny syg, aku gak ad kndaraan. Mtor dpke kk. Gmn ya? maaf.."
Satu kata yang terangkum dalam otakku saat itu. Kecewa. Bukan kecewa karena tidak ada kendaraan. Bukan kecewa karena harus pergi sendiri ke acara yang aku tak tau situasi dan kondisi nya seperti apa. Tapi kecewa karena tak ada kah usahanya untuk membuatku hadir di acara yang penting baginya itu? Aku kembali mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Secepat kilat aku undang pikiran-pikiran positif untuk bertamu. Aku kembali mengambil hanphone yang sempat terabaikan.
"Gak ada bener ya? yaudah, liat entar deh bisa kesana atau enggak. Aku usahain kok"
"Marah ya? maafff, dateng yaa, please.."
Aku menghela nafasku, berusaha tenang. Besok dia akan melakukan perjalanan panjang ke luar kota, hari ini hari terakhir waktuku bersamanya dalam beberapa pekan kedepan. Baiklah, terlalu egois untuk memikirkan perasaan sendiri saat ini. Ku ambil tas tanganku, kemudian pergi.
"Tugas gue numpuk begini Sa, gue butuh hiburan" Lia menarik rambutku pelan, dia membujukku untuk ikut menemaninya cuci mata sore ini. Padahal aku tau benar, dia hanya mencari alasan untuk menghiburku. Membuatku melupakan apa yang baru saja terjadi padaku belakangan ini.
"Kalau emang gak ada apa-apa, ya nggak mesti juga telponan, sms an lalu di publish di media sosial seakrab itu. Sebegitu gak ada harganya ya aku di mata kamu"
"Yaampun.. gitu doang biasa aja sih."
"haha, iya mestinya aku biasa aja ya! yaudah lanjutin deh. Apa gak ada cewe lagi selain pacar sahabat aku!"
"Ribet amat, yaudahlah kalo gak percaya!"
"Sabar itu indah loh, banyak hal yang bisa kita jadiin pelajaran. Tapi, kalau emosimu lagi labil, mendingan di ungkapin, ungkapin dengan cara yang elegan" Lia menatap langit-langit kamarku sambil berbaring di sofa, dengan kedua tangan memeluk bantal. Aku tak memandangnya, hanya melihatnya sekilas lalu kembali berbalik badan. Guling yang ku peluk ini basah, wajahku tenggelam di dalamnya. Aku lega. Ya, AKU LEGA.
Entah orang normal mana yang bisa melihat kedekatan mereka itu biasa saja. Saling menyapa di media sosial. Mengumbar janji akan menelpon satu sama lain. Menunjukan bahwa salah satu dari mereka menunggu sms masuk dan marah ketika sms tak kunjung dibalas. Entah juga apa tujuan mereka melakukan semuanya. Membukanya di forum umum, sepertinya memang sengaja. Aku tak peduli aku tak peduli aku .. peduli .
Sampai pada puncak keterbatasanku untuk bertahan, aku menyerah. Memilih untuk pergi dari dunia nya yang mungkin tidak mengizinkanku menyentuhnya lagi sedikitpun. Aku memilih diam. Menahan sesak yang aku harap suatu saat dia mengetahuinya. Akupun berharap, dia sadar apa yang telah dia lakukan! menyianyiakan aku!
Rasanya seperti memecahkan guci besar yang menghalangi jalanku, yang kemudian bunyi nya teredam oleh suara hujan deras yang tiba-tiba datang. Lebur semua, hati ini rasanya seperti debu di luar sana. Tak bisa berbuat apa-apa.
Saat itu aku berjanji, berjanji pada diriku sendiri, tangis itu adalah tangis terakhirku untuk dia. Tangis terakhirku karena dia.
Jumat, 21 September 2012
Sahabat itu Ayahku
Siapa tak kenal sahabat? sahabat itu yang akan membuatmu tertawa ketika dunia tak mendukung kau tertawa. Yang akan membuatmu mengenal arti hikmah dibalik airmata yang tak mereka seka dengan sengaja, tapi kemudian akan menghentikan alirannya. Ya, begitu besar arti seorang sahabat khususnya di mataku. Hidup tak akan selamanya manis, dan hidup juga tak akan selamanya pedih. Begitu berharga jika kau lewati bersama orang yang nilainya sama berharganya.
Sahabat itu Ayahku..
Ayah akan tersenyum ketika aku malas tersenyum, dan kemudian berkata "Kamu lihat ada anak bebek mondar mandir di depan rumah kita?" aku menggeleng. "Oh, berarti bebeknya udah pindah sekarang, di depan Ayah." aku mengerutkan dahi, bibirku sepertinya lebih mendukung lagi. Ayah terkekeh sambil mengacak-acak kepalaku. Dan selalu ku ingat, tawanya itu.. damai.
Sahabat itu Ayahku..
Ayah akan bersedia menjadi apapun yang aku butuhkan.
Aku tak peduli akan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, asal bersama Ayah. Yah, bersamanya adalah menyenangkan. Berjalan dengannya adalah waktu yang diberikan Tuhan untuk dinikmati, bersamanya adalah kebahagiaan. Karena ketika berjalan dengannya, aku merasa menjadi seorang puteri raja dan Ayah adalah rajanya. Ya, Rajaku. Yang selalu melindungi puterinya. Raja yang berperan layaknya pahlawan yang menyuntikan perasaan aman di tubuhku. Kau tak akan peduli, beribu mawar di depan jalan siap bersama durinya. Tubuhnya yg keras oleh hidup, akan selalu ada untukmu.
Sahabat itu Ayahku
Sahabat itu Ayahku..
Ayah akan tersenyum ketika aku malas tersenyum, dan kemudian berkata "Kamu lihat ada anak bebek mondar mandir di depan rumah kita?" aku menggeleng. "Oh, berarti bebeknya udah pindah sekarang, di depan Ayah." aku mengerutkan dahi, bibirku sepertinya lebih mendukung lagi. Ayah terkekeh sambil mengacak-acak kepalaku. Dan selalu ku ingat, tawanya itu.. damai.
Sahabat itu Ayahku..
Ayah akan bersedia menjadi apapun yang aku butuhkan.
Aku tak peduli akan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, asal bersama Ayah. Yah, bersamanya adalah menyenangkan. Berjalan dengannya adalah waktu yang diberikan Tuhan untuk dinikmati, bersamanya adalah kebahagiaan. Karena ketika berjalan dengannya, aku merasa menjadi seorang puteri raja dan Ayah adalah rajanya. Ya, Rajaku. Yang selalu melindungi puterinya. Raja yang berperan layaknya pahlawan yang menyuntikan perasaan aman di tubuhku. Kau tak akan peduli, beribu mawar di depan jalan siap bersama durinya. Tubuhnya yg keras oleh hidup, akan selalu ada untukmu.
Sahabat itu Ayahku
Kamis, 09 Februari 2012
If I Were You
Gue jalan di atas trotoar malem itu, walaupun gue sadar kalaupun gue tiduran di tengah jalan juga gak bakalan ada kendaraan nabrak gue. Malem itu bener-bener sepi, sampe gue bisa denger nafas gue berkala dan bunyi sepatu gue yang udah mulai bawel mintak di-lem. Gue jalan agak cepet, selain takut setan, gue juga takut copet atau preman beserta cucu dan cicitnya. Penakut? memang, terus masalah? hah? hm gak penting, lanjut deh. Gue mempercepat langkah gue sambil ngigit syal yang gue gantung di leher pas gue keluar dari rumah tadi. Okay, nasib gue memang, keluar tengah malem gini gak akan ada yang peduli, mungkin kalo gue mati juga tinggal kubur aja nanti ya. Terus ngapain gue keluar rumah? padahal gue sendiri takut sepi, takut gelep. Alasannya adalah, gue nyariin bang toyib yang gak pulang-pulang. HAH? apaan itu tadi? maaf maksud gue, gue emang diusir dari rumah, titik.
***
Gue bangun dari tidur gue yang kayaknya udah terlalu lama sampe badan gue kerasa tebel gini. Leher gue berasa disanggah besi. Susah bergerak. Gue raih handphone yang sedari tadi nemenin gue di kasur, kayaknya gue kelewat nyenyak sampe-sampe tujuh belas misscall pun gak kedengeran. Gue buka option supaya tau siapa yang nganggep gue orang penting sampe nelpon sesering itu. Dan gue ngedapetin satu nama. EDO.
Oh mine~
Gue buru-buru mencet-mencet keypad tuh handphone buat nelpon balik.
"BEBIIII, maaf . Tidurrr tadi. Hehe" gue exited sambil ngomong pake nada manja.
"Tidur apa pingsan?" dari nadanya sepertinya dia sedikit kesal
"Pingsan, sedikit. haha. Maaf sih bebbb.."
"Hhhhhh... iyaa. Udah makan?"
"Hehe, makasiih. Belum, makan bareng yuk. Aku tunggu dirumah ya?"
"Ada siapa?"
"Ada nyokap, tapi gak apa kan, kayak biasa?"
"Hehe.. okay. Wait me for 10 minutes"
"See youu"
*klik*
Tepat sepuluh menit kemudian Edo datang dengan membawa nasi ayam bakar dengan wajah sumringah. Dia disambut nyokap dari pintu depan rumah dan sepertinya langsung disuruh nyokap buat nemuin gue. Buktinya sekarang dia disini, di kamar gue. Gue rasa pipi gue mulai merah, hangat. Refleks juga senyum-senyum ini kayak ayam kehilangan induk, gak terarah. Wah, gue salting! Gue tau ini udah biasa, tapi tetep aja, setiap natap mata Edo yang sekarang ada di depan gue ini. Mandangin wajah dia yang bersih cakep dan.. ah pokoknya bikin deg-deg-ser . Gue berasa jatuh cinta terus terusan. Edo~
Dan wajah dia sekarang gak lebih dari lima senti dari wajah gue. Beautiful world, please don't stop!
***
Gue males ngampus. Karna gue gak punya temen. Kasian ya gue. Kok bisa gue gak punya temen? yaah, pendapat orang sama prinsip hidup orang kan beda-beda ya, jadi ya gue gak ada nyalahin siapa-siapa, kalo emang mereka gak mau temenan sama gue ya, yaudah itu hak mereka. Gue juga masih punya Edo yang selalu ngertiin gue dan selalu ada buat gue. Hidup orang juga gak sempurna-sempurna amat. Yang penting gue nyaman jadi diri gue sendiri. Whatever they judge about me.
Tapi, gue juga repot kalo gue males kuliah gini. Gue sebenernya gak mau bikin nyokap sama bokap kecewa. Ngebahagian mereka adalah salahsatu tujuan gue hidup. Tapi kayaknya setan di kepala gue udah beranak cucu. Siapapun tolong gue kalo ada yang mau ngadopsi, nih lo ambil SEPUASNYA! Hahh...
***
Musik mulai membahana, suaranya terdengar hingga luar ruangan. Gue duduk di salahsatu kursi di pojokan. Nungguin Edo. Ada beberapa cewek dengan rok super mini melintas-lintas di depan gue, mereka berjalan sambil ketawa-ketawa ngerasa diri mereka paling sexy.
Gue meriksa handphone gue yang gak bunyi daritadi. Gak ada tanda-tanda Edo bakalan dateng. Mungkin dia kelewat sibuk sama kerjaannya, gue masih bisa positif thinking. Gue baru sadar, ternyata daritadi ada cowok yang mandangin gue dengan penuh tanda tanya di atas kepalanya (emang keliatan?). Sambil terus ngepul, dia nyamperin gue. Cakep sih~
Gue menikmati tiap menit perbincangan gue sama cowok ini. Gue tertarik sama cara dia ngomong. Gue, suka dia deh. Sampe akhirnya, perbincangan gue sama cowok ini bermuara di hotel sebelah. I'm sorry Edo, let me enjoy tonight~
***
Ira, sebenernya dia sahabat gue. Dulu di kampus gue selalu bareng dia. Sekarang? gue emang gak musuhan sama dia, tapi gue gak bareng dia lagi. well~
Gue sayang sama dia. Gue ngerasa dia mulai menjauh setelah kejadian itu. Dan sekarang, dia bener-bener jauh. Dan ini alesannya gue lagi gak pengen deket-deket cewek seumuran gue. Kalau tau gue gimana, pasti mereka ninggalin gue. Hopeless!
***
Gue lirik belanjaan gue tadi siang. Lumayan banyak ya. Mungkin kalo gue beli sendiri, duit spp gue sebulan bisa raib. Gue kadang ngerasa bersalah buat manfaatin cowok-cowok untuk kebutuhan gue, tapi selama mereka dan gue menikmatinya, gue rasa gak ada masalah.
Nyokap ngetuk pintu kamar nyuruh gue makan. Gue buru-buru masukin barang belanjaan ke lemari baju, random asal lempar. huh~ be nice yaa
Oh ya, malem ini Edo bakalan nginep dirumah. CAN'T WAIT!
"Eh, Edo. nginep ya? banyak tugas kalian?"
"iya tante.. hehe. Tugasnya lumayan.. mudah-mudahan cepet selesai"
Edo masuk kamar gue kemudian sambil cengengesan. Dia nutup pintu kamar dan menguncinya. Dan gue balik senyum sama dia.
***
Oke. Sekarang gue gak punya siapa-siapa. Gue tidur dimana malem ini pun gue gak tau. Handphone gue mati karna lupa ngecas sebelum gue diusir dari rumah. Mungkin mendingan sekarang gue nyari tempat dulu buat ngecas, setelah itu gue baru cari orang buat direpotin supaya nyediain tempat tidur buat gue.
Gue terus jalan, semakin jauh dari rumah gue tercinta. Kemudian gue nemuin mushola. Gue pikir, mushola pasti ada listrik kan buat gue ngecas ni handphone. Tapi, gue takut masuk situ.
Selama ini gue gak pernah masuk mushola, terakhir kesana itu seinget gue waktu gue kecil umur lima atau enam tahun. Sekarang, setelah dewasa rasanya gue malu sama Tuhan atas apa yang udah gue lakuin. Gue takut masuk ke dalem. Gue takut. Lucu ya? orang kotor kayak gue masih takut Tuhan. gue tau selama ini emang gue salah. Dan gue sadar itu sepenuhnya. Tapi gue belum bisa untuk ngerubah diri gue seperti yang orang tua gue pengen. Temen-temen gue pengen. Gue tau mereka marah karena mereka peduli. Tapi gak bisa segampang itu, gue ngelawan diri gue yang pengen jadi diri gue sendiri. Oke gue pengen ngebahagiain mereka, tapi gue juga punya hak buat ngebahagiain diri gue sendiri. Gue juga gak pengen kayak gini. Tapi, hati gue yang Tuhan kasih kayak gini. Kalo emang gue ditakdirin jadi cowok, kenapa Tuhan harus ngasih perasaan cewek ke gue? kenapa gue pengen sepenuhnya jadi cewek? kenapa? Keinginan itu ada bukan gue yang mau, keinginan itu emang ada dan gue gak tau kenapa. Gue kadang nyalahin diri gue sendiri. Tapi gue juga mikir, kalau gue juga pengen jadi cowok, yang normal sayang sama cewek. Gue udah nyoba. Tapi mereka gak ada yang ngehargain gue. Belum lagi cemoohan mereka yang enak banget meluncur, mereka bilang gue bodoh, gue ngelanggar aturan Tuhan. Tapi coba mereka yang ngerasain jadi gue. Ini semua gak segampang yang mereka pikirin. Dari orang yang semacam gue, untuk jadi normal itu SUSAH. Jangan pernah lo semua nganggep ini sepele. Gue berusaha. Gue UDAH berusaha! tapi kadang gak ada yang ngehargain usaha gue, ini yang bikin gue balik lagi ke jalan yang salah. Sekarang, gue gak peduli kata orang apa. Buat orang-orang yang gue sayang, mungkin kalian bakalan mandang gue sebelah mata. Tapi rasa sayang gue gak akan berubah. Semoga suatu saat nanti gue bisa jadi orang yang kalian pengen.
Gue pergi menjauhi mushola itu, gue lari tanpa tujuan. Gue teriak di malem yang semakin gelap. Gue ngerasa alam semesta ngetawain gue.
Gue keinget nyokap sama bokap gue yang terakhir gue lihat mimik wajahnya yang shock ngeliat gue dan Edo dibalik selimut yang sama tanpa busana.
Gue keinget semua cowok-cowok yang pernah jalan sama gue, pernah gue manfaatin, mereka dan apa yang pernah kita lakuin.
Gue keinget Ira, cewek yang bikin gue jatuh hati, dan bikin gue yakin kalo gue bisa hidup normal, tapi dia ngancurin harapan gue. Dia gak bisa jadi milik gue, gak akan pernah bisa..
Semuanya muncul kayak kembang api. Kenangan indah semuanya meledak dan bikin hati gue ancur seancur-ancurnya.
Entah apa yang bisa gue lakuin sekarang untuk jadiin keadaan lebih baik.
Gue capek!
***
Saling menghargai akan selalu berbuah baik. Apa yang terjadi pada orang lain, tak mungkin dapat kita pahami sepenuhnya. Positif thinking lah pada semua orang, pandangan mereka tak mungkin sama. Mereka melakukan suatu hal, dengan alasan. Apa yang mereka rasakan, hanya bisa kita tahu. Bersikaplah seperti langit yang selalu terbentang untuk mendengar suara angin. Berharap, dengan penghargaan kita terhadap orang lain. Akan menghasilkan kebaikan di kemudian hari. Bagi mereka, dan bagi kita .
:)
Langganan:
Postingan (Atom)





